Published by Martinus Ady H on May 22nd, 2011 in Linux | 11 Comments
Sudah lama sekali rasanya saya tidak posting apapun tentang Slackware
Nah untuk kali ini, berhubung Slackware 13.37 juga barusan dirilis akhirnya kesampaian juga untuk melakukan “clean format” pada harddisk agar menggunakan Slackware saja sebagai Sistem Operasi utama saya
Kali ini saya menginstall Slackware64 dan menggunakan kernel default yaitu 2.6.37, sedangkan untuk pilihan Desktop Manager-nya pilihan saya jatuh pada GNOME 3.0 yang diambil dari GNOME Slackbuild sekalian mencoba suasana baru
Proses installasi ini berjalan seperti biasa tidak ada yang berubah, setelah selesai menginstall Slackware64 langkah selanjut-nya yaitu menginstall GNOME 3.0 dari GNOME Slackbuild Setelah selesai menginstall GNOME 3.0, langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah konfigurasi driver Broadcom BCM4312 802.11b agar wifi saya bisa berjalan dengan normal
Untuk drivernya sendiri bisa didownload di halaman 802.11 Linux STA driver. Nah masalah mulai muncul ketika menjalankan perintah make clean yang hasilnya adalah seperti berikut :
CC [M] /home/martinus/driver_broadcom/src/wl/sys/wl_linux.o
/home/martinus/driver_broadcom/src/wl/sys/wl_linux.c: In function 'wl_attach':
/home/martinus/driver_broadcom/src/wl/sys/wl_linux.c:485:3: error: implicit declaration of function 'init_MUTEX'
make[2]: *** [/home/martinus/driver_broadcom/src/wl/sys/wl_linux.o] Error 1
make[1]: *** [_module_/home/martinus/driver_broadcom] Error 2
make[1]: Leaving directory `/usr/src/linux-2.6.37'
make: *** [all] Error 2
Read More ..
Tags: Broadcom, GNOME3, Linux, Linux Driver, Slackware
Published by Martinus Ady H on May 16th, 2011 in Financial, Investasi | No Comments
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 662/XIII
Rekening bersama adalah rekening yang dimiliki atas nama dua orang, di mana biasanya kedua orang pemilik itu sama-sama memiliki hak untuk menarik uang tersebut. Dalam keluarga, Rekening bersama biasanya dimiliki oleh suami istri.
Namun ada kalanya rekening bersama hanya jadi sebutan belaka. Ada suami-istri yang memiliki rekening untuk digunakan bersama, tapi atas namanya hanya pada satu orang saja. Ini –secara tidak resmi– bisa juga kita sebut sebagai rekening bersama.
Sebagai pasangan suami-istri, mungkin sering timbul pertanyaan apakah Anda berdua perlu menyatukan uang Anda dalam satu rekening atau tidak. Nah, sebelum Anda memutuskan untuk menyatukan uang Anda dalam satu rekening, perlu diketahui bahwa ada banyak efek positif maupun negatif yang akan terjadi. Dan juga yang paling penting, apa motivasi terbesar Anda menyatukan uang Anda berdua dalam satu rekening.
Motivasi terbesar pasangan suami-istri ketika menyatukan uang mereka dalam satu rekening biasanya adalah karena mereka ingin mempunyai sesuatu yang dimiliki bersama (dan kalau perlu atas nama bersama), sehingga pada akhirnya akan meningkatkan rasa kebersamaan di antara mereka.
Read More ..
Tags: Financial, Investasi
Published by Martinus Ady H on May 13th, 2011 in Financial, Investasi | No Comments
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari detik.com
Banyak orang percaya emas adalah produk investasi yang bisa menangkal inflasi. Dan memang, sejarah membuktikan emas akan diborong orang apabila terjadi kepanikan yang bisa membahayakan ekonomi negara, seperti inflasi tinggi, krisis keuangan, atau perang.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi bisa menggerogoti uang Anda. Kalau asumsi inflasi 15 persen/tahun, maka harga barang & jasa yang sekarang bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau dua kali lipat pada tahun ke-6, dan Rp 15,3 juta atau tiga kali lipat pada tahun ke-9, dan seterusnya.
Menurut keparahannya, ada tiga tipe inflasi:
- Inflasi Moderat, yaitu apabila laju inflasi hanya berada di bawah dua digit per tahun (di bawah 10 persen)
- Inflasi Ganas, yaitu apabila laju inflasi berada pada dua digit per tahun (10 persen – 99 persen)
- Inflasi Hiper, yaitu apabila laju inflasi berada pada tiga digit per tahun (100 persen atau lebih)
Tulisan ini akan membahas tentang apa yang bisa Anda lakukan agar bisa menghadapi inflasi. Bila Anda bukan termasuk pengambil keputusan di pemerintahan, Anda mungkin tidak bisa ikut menurunkan tingkat inflasi. Yang bisa Anda lakukan sebagai individu, hanyalah bagaimana agar Anda bisa mengambil ‘keuntungan’ dari terjadinya inflasi tersebut. Bagaimana caranya? Saya menyarankan agar Anda melakukan investasi pada instrumen yang akan naik pesat apabila terjadi inflasi tinggi. Apa itu? Emas.
Read More ..
Tags: Financial, Investasi
Published by Martinus Ady H on May 9th, 2011 in Financial, Investasi | No Comments
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV
Oleh : Safir Senduk
“Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?” Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.
Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:
- Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah “Apakah uang saya akan hilang?” Kebanyakan orang mungkin menjawab “tidak” kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: “Apakah uang saya akan hilang?”
Read More ..
Tags: Financial, Investasi
Published by Martinus Ady H on May 7th, 2011 in Financial, Investasi | 1 Comment
Artikel oleh : Mike Rini
Dikutip Dari : Danareksa.com
Sejalan dengan berjalannya siklus kehidupan manusia mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai tua renta, maka berbagai pandangan dan kebutuhan finansial kita juga selalu berubah-rubah sesuai kondisinya. Contohnya, saat seseorang berada di usia 30-an, kemungkinan sedang sangat menikmati masa mudanya, bekerja dengan giat dan agresif namun berkejaran dengan gaya hidup konsumtif yang bergulat dengan tagihan kartu kredit Menjelang pensiun di usia sekitar 50-an, seseorang biasanya sedang berusaha keras memastikan sudah punya cukup uang untuk bisa melanjutkan hidupnya setelah tidak bekerja, cari aman deh !
Dalam kesempatan kali ini, marilah kita pelajari beberapa kunci-kunci keputusan finansial dalam tiap tahapan kehidupan manusia – yang saya kira perlu kita pahami dengan seksama. Mempelajari hal ini bertujuan untuk memudahkan pengambilan keputusan finansial, apa yang perlu kita lakukan dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan berkaitan dengan uang dari tiap tahapan kehidupan kita. Lebih dari, manfaatnya bukan sekedar hanya untuk menambah pengetahuan kita sendiri, namun juga membantu memahami kebutuhan dan pandangan orang lain secara finansial, sesuai dengan usianya juga.
Karena penting sekali bagi kita untuk bisa sesekali menempatkan diri pada posisi orang lain secara finansial. Sebab suatu keputusan keuangan jarang sekali yang bisa berdiri sendiri, baik Anda yang masih lajang maupun sudah menikah, atau Anda punya tanggungan atau justru Anda yang ditanggung. Selalu saja ada pengaruh serta kepentingan orang lain didalamnya.
Usia Sekolah Dasar sampai dengan dengan lulus Perguruan Tinggi S1 di usia 20-an
- Pada usia 0 sampai 18 tahun, umumnya orang masih berada di bangku sekolah pendidikan dasar dan seluruh biaya hidup ditanggung oleh orang tua. “Life is beautiful, with no responsibilities what so ever.. “ kira-kira begitulah gambaran hidup seseorang pada masa kanak-kanak dan remajanya. Hanya saja memang tidak seindah kenyataannya jika berkaitan dengan uang. Anda tahu kan bagaimana pada jaman sekolah dulu, sulitnya meminta uang pada orang tua. Tidak.
- Saat di Perguruan Tinggi, kebanyakan dari Anda mungkin masih di biayai orang tua, tapi pengaruh teman-teman, mengikuti trend atau mungkian memang terpaksa banyak juga dari Anda bahkan harus bekerja paruh waktu mencari penghasilan tambahan untuk tambahan ongkos kuliah. Dengan naiknya ongkos kuliah, transport dan buku-buku, memang agak sulit jika harus mengandalkan orang tua.
Lagipula mempunyai uang sendiri, kedengaran lebih cool & gaul. Lebih bebas menntukan pilihan dalam membelanjakan uang, juga sesekali mentraktir orang tua dan teman bisa jadi kebanggaan tersendiri. Asalkan bisa membagi waktu dengan jadwal kuliah yang harus segera diselesaikan, maka bekerja paruh waktu atau berusaha mendapatkan uang sendiri sambil kuliah tentunya bisa dilakukan. Bekerja sambil kuliah memang memanfaatkan waktu luang dengan positif, tentunya kita sedikit banyak bisa mempraktekkan apa yang dipelajari selama ini di sekolah.
Read More ..
Tags: Financial, Investasi