Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Pendakian Gunung Gede 2958 Mdpl

| Comments

Kawah Gunung Gede (Doc. Dadang)

Pendakian kali ini sebenarnya adalah ide dari Mas Idhi yang ingin nostalgia masa-masa ketika masih aktif naik gunung, karena sejak bekerja Mas Idhi sudah tidak pernah naik gunung lagi :) Karena ini merupakan ajakan dari Mas Idhi yang sebelum-nya saya “komporin” terus biar aktif lagi tapi tidak pernah berhasil, saya pun menyambutnya dengan sangat antusias bahkan saya sempat bilang “Demi sampean, semua urusan booking dan SIMAKSI untuk pendakian kali ini akan saya urus sendiri” :D Karena lokasi Gunung Gede yang dekat dengan Jakarta, maka sayapun mencoba mencari korban yang mau ikut pendakian kali ini. Untuk yang belum tahu, Gunung Gede ini merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 - 3.000 m. dpl, dan berada pada lintang 106°51' - 107°02' BT dan 64°1' - 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede 18 °C dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.

Gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan, yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan pegunungan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia. (keterangan diambil dari halaman Wikipedia Gunung Gede )

Sedangkan untuk jalur pendakian, Gunung Gede mempunyai 3 jalur resmi yaitu Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana. Selain menyediakan wisata pendakian, pihak Taman Nasional Gede Pangrango juga menyediakan wahana wisata lain yang berbasiskan pada alam seperti Canopy Trail, Bumi Perkemahan Mandalawangi, Pusat Rehabilitasi Owa Jawa, dll seperti terlihat pada peta interfaktif dibawah ini (peta interaktif ini diambil dari web resmi Taman Nasional Gede Pangrango):

Seperti-nya racun yang saya sebarkan cukup ampuh untuk menggoyahkan iman teman-teman yang mayoritas pekerja kantoran semua, ini terbukti dengan banyaknya peserta yang ingin ikut. Tercatat ada 14 orang yang meyatakan kesanggupan-nya, dan yang lebih spesial dari pendakian kali ini adalah terdapat 2 pasangan pengantin baru yang ikutan (alamat menyiapkan 2 tenda khusus buat mereka berdua, supaya lebih berasa suasana honey moon-nya -_- )

Setelah melalui diskusi yang cukup alot , akhirnya kita semua sepakat untuk pendakian kali ini akan dilakukan pada tanggal 24/05/2014 - 25/05/2014. Akhirnya tiba giliran saya untuk melakukan proses booking pendakian gunung gede ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan semua ini bisa dilakukan secara online melalui situs resmi Booking Online - Gede Pangrango, karena 1 simaksi hanya bisa menampung maksimal 10 orang maka akhirnya kita-pun mengurus 2 simaksi untuk pendakian kali ini dan proses booking kita lakukan sebulan sebelum tanggal pendakian.

Proses booking sudah selesai dan simaksi pun sudah di tangan seminggu setelah proses booking dilakukan, sekarang tinggal menunggu tanggal pendakian tiba sembari mencari beberapa perlengkapan yang ternyata masih kurang. Tepat seminggu sebelum hari H, akhirnya beberapa personel mengundurkan diri :‘( hingga tersisa 8 orang yang tetap menyatakan positif tetap ikut pendakian kali ini. Setelah melihat personel yang ikut, akhirnya kita sepakat untuk membagi menjadi 2 team dan memutuskan bertemu langsung di Cibodas.

Setelah penantian yang cukup lama akhirnya hari pendakian itu tiba juga. Tepat setelah pulang kantor dan memastikan perlengkapan yang akan dibawa, akhirnya saya, Jimmy, Dadang, Rina dan Feldy pun mulai berangkat menuju ke terminal Kampung Rambutan untuk mencari bis yang menuju ke Cibodas. Perjalanan dari Jakarta menuju Cibodas saya gunakan untuk tidur, dan sampai di pintu masuk Cibodas kurang lebih jam 01:00 dini hari. Karena kita akan mulai trekking jam 04:30 subuh nanti, sebagian waktu kita gunakan untuk beristirahat dulu di sebuah warung yang terletak di dekat basecamp Green Ranger dan disinilah akhirnya kita bertemu dengan rombongan mas Dhamar, Luluk dan Sugik yang berangkat menggunakan mobil pribadi dari Jakarta.

Kurang lebih tepat jam 04:30 kitapun mulai pendakian kali ini, setelah melewati pintu gerbang selamat datang tidak lama kemudian kitapun sampai di Basecamp Cibodas tempat pemeriksaan SIMAKSI. Di basecamp ini juga ada beberapa teman yang menunaikan sholat subuh , dan akhir-nya kita benar-benar mulai trekking kurang lebih jam 05:15. Kondisi jalur pendakian lewat Cibodas ini bisa dikatakan landai dengan kombinasi rute berbatu yang sudah disusun sedemikian rupa hingga tidak terlalu menyulitkan. Perjalanan menuju ke Danau Biru membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari basecamp pendakian Cibodas, yang sayang-nya ketika kita tiba disana airnya sedang berwarna coklat keruh iks… :( Kekecewaan ini tidak bertahan lama, karena tidak jauh dari Danau Biru akhirnya kitapun sampai di Rawa Gayonggong dan langsung terkesima dengan gagah-nya Gunung Pangrango yang berwarna ke emasan tertimpa sinar matahari pagi itu.

Kondisi Jalur Pendakian (Doc. Dadang)

Danau Biru

Rawa Gayonggong

Indahnya Pangrango terlihat di Rawa Gayonggong (Doc. Dadang)

Kita sampai di pertigaan Curug Cibereum kurang lebih jam 06:44 dan istirahat sebentar disini, setelah puas beristirahat akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali dan teman-teman semua sepakat untuk istirahat lagi di pos Air Panas sekalian makan siang disana. Kondisi jalur pendakian dari Curug Cibereum menuju Air Panas masih di dominasi bebatuan yang sudah disusun sehingga perjalanan ini tidak begitu menyulitkan bagi saya, cuma tetap saja saya masih ngos-ngosan juga :( Meskipun saya merasa capek, tetapi sensasi berjalan di hutan hujan tropis sangat terasa disini. Dan beberapa kali saya juga sempat melihat Owa Jawa yang katanya sudah langka itu bergelayutan dari satu pucuk pohon ke pucuk pohon yang lain, perjalanan dari pertigaan Curug Cibereum sampai Air Panas ternyata cukup jauh bagi saya. Setelah beberapa kali istirahat akhirnya sayapun berhasil sampai juga di pos Air Panas kurang lebih jam 10:06 dimana Dadang dan Feldy sudah sampai duluan. Tidak lama kemudian Jimmy beserta istri-nya akhirnya sampai juga di pos Air Panas ini, setelah berdiskusi sebentar akhirnya kita memutuskan untuk melewati Air Panas dan mencari tempat untuk beristirahat.

Dari awal pendakian kali ini, jalur Air Panas merupakan jalur yang cukup seru sekaligus membuat keringat dingin keluar bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, dengan kondisi jalur yang tidak terlalu lebar dan disisi kanan sudah menanti jurang yang rasanya cukup dalam dengan pengaman cuma seutas tali. Setelah berhasil melewati Air Panas akhirnya kita pun menemukan sebuah tempat yang terletak di sebelah kanan jalur setelah sebuah bangunan. Disini kita akhirnya mulai mengeluarkan fly sheet, matras, logistik dan peralatan masak untuk makan siang sembari menunggu teman-teman yang lain datang. Ketika kita sedang seru-seru-nya masak, ternyata kita di datengin beberapa “penunggu” hutan yang lucu bin imut yang sayang-nya cuma 2 ekor saja yang berhasil di jepret ;)

Pos Air Panas (Doc. Dadang)

Si Bulu Hitam Penunggu Hutan Gede Pangrango (Doc. Dadang)

Si Imut Penunggu Hutan Gede Pangrango (Doc. Dadang)

Kita beristirahat di pos Air Panas ini cukup lama bahkan sempat tidur juga, karena tidak ingin kemalaman di jalan akhirnya perjalanan kita lanjutkan lagi. Kali ini target pemberhentian berikut-nya adalah langsung menuju ke Pos Kandang Badak dan akan melewati Pos Kandang Batu yang di dekat-nya terdapat sebuah curug yang cukup indah yang sayangnya kita disini tidak foto-foto :( Sesampai-nya di Pos Kandang Badak kurang lebih jam 15:25 dan beberapa teman memutuskan untuk nge-camp disini saja, karena takut kemalaman jika perjalanan diteruskan sampai ke Alun-alun Surya Kencana. Setelah menemukan tempat yang cukup luas, akhirnya kitapun mulai mendirikan dan mengatur tenda yang akan kita gunakan untuk tidur malam nanti. Seperti tradisi pada umum-nya, setelah tenda berdiri kita lanjutkan acara masak-masak, mengisi botol-botol air yang kosong dan yang terpenting yaitu adalah menyeduh kopi hitam kemudian tidur :)

Pos Kandang Badak

Acara Utama Memasak (Doc. Dadang)

Pagi itu saya terbangun kurang lebih jam 08:00 karena hasil diskusi semalam bakalan tidak ada yang muncak :( , setelah nyawa terkumpul akhirnya saya-pun keluar tenda gabung bersama teman-teman yang lain. Ketika sedang menikmati hangat-nya jahe susu, tiba-tiba Jimmy, Dadang dan Feldy merencanakan untuk muncak dan kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk ikut :D sedangkan Dhamar, Luluk, Sugik dan Rina menunggu di pos Kandang Badak. Tepat jam 08:30 akhir-nya kita berempat mulai perjalanan menuju ke Puncak Gunung Gede yang berdasarkan informasi memerlukan waktu 2 jam perjalanan dari Kandang Badak. Perjalanan dari Kandang Badak menuju Puncak Gede ini bisa dibilang terjal tapi juga menyenangkan, selain itu disini terdapat sebuah tanjakan yang cukup terkenal yaitu Tanjakan Setan dimana setelah berhasil melewati tanjakan tersebut kita akan melihat megah-nya Gunung Pangrango yang cukup indah :)

Tanjakan Setan Gunung Gede (Doc. Dadang)

Selfie dengan Background Pangrango (Doc. Dadang)

Kondisi Jalur Pendakian Kandang Badak - Puncak Gede (Doc. Dadang)

Akhirnya kurang lebih jam 10:00 kita pun sampai juga di Puncak Gede, meskipun dengan napas ngos-ngosan akhirnya saya bisa juga menginjakkan kaki disini :D Pemandangan yang terlihat benar-benar cukup indah, diatas sini saya juga bisa melihat Alun-alun Surya Kencana yang terkenal itu sayang-nya pada perjalanan kali ini saya belum berkesempatan untuk mengunjungi-nya :(

Jalur Puncak Gede (Doc. Dadang)

Alun-alun Surya Kencana Terlihat dari Puncak Gede (Doc. Dadang) t Megahnya Pangrango Terlihat dari Puncak Gede (Doc. Dadang)

Puncak Gunung Gede 2958 mdpl (Doc. Dadang)

Setelah puas foto-foto akhirnya kita-pun mulai turun tepat jam 10:30 menuju pos Kandang Badak untuk makan siang dan kemudian packing untuk pulang kembali ke Jakarta, perjalanan turun dari Puncak ke pos Kandang Badak membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dan kita tidak melewati Tanjakan Setan lagi tetapi memilih jalur alternatif yang berupa jalur menurun sedikit curam yang berada di sisi kanan sebelum tanjakan setan jika kita dari arah puncak. Kita sampai di Kandang Badak kurang lebih jam 10:40 dan langsung menuju tenda tempat dimana teman-teman yang tidak ikut muncak sedang menyiapkan makan siang :)

Ketika sedang packing untuk turun, ternyata mas Luluk minta supaya turun-nya nanti pelan-pelan saja karena merasa kaki sebelah kanan-nya sedikit sakit. Setelah packing selesai, akhirnya kurang lebih jam 12:30 kitapun mulai turun. Dalam perjalanan turun, rasa sakit yang di rasakan mas Luluk semakin menjadi-jadi meskipun sudah di olesi dengan counterpain hingga akhir-nya sebelum kita sampai ke pos Kandang Batu ada beberapa pendaki yang memberi pertolongan ke mas Luluk dengan memberikan terapi pijat ditempat. Hujan akhirnya turun ketika kita baru sampai di pos air panas, dan disini akhir-nya Ugik memutuskan untuk membawa beban mas Luluk dan minta ijin untuk jalan duluan ke basecamp sedangkan kita ber-enam bergantian membantu mas Luluk yang kaki-nya cidera.

Akhir-nya kitapun sampai di pertigaan Curug Cibereum ketika hari sudah mulai gelap, kita tidak beristirahat lama di sini. Setelah mengeluarkan headlamp dan beberapa senter untuk penerangan akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali, dan sampai di basecamp kurang lebih jam 19:00 dengan tidak kekurangan apapun. Setelah cukup puas beristirahat akhir-nya kitapun berpisah, dan tepat jam 20:30 kitapun bertolak kembali ke Jakarta untuk mengejar portal yang ditutup tepat jam 00:00 :( karena jika portal gang di tutup, maka Feldy tidak akan bisa pulang ke Depok :D

Sedangkan rincian pengeluaran untuk pendakian kali ini adalah sebagai berikut: Rincian Pengeluaran Pendakian Gunung Gede

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: