Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Indahnya Setu Patok Dan Menantangnya Lereng Gunung Ciremai

| Comments

Indahnya Setu Patok (Doc. Om Agus)

Perkenalan saya dengan om Agus (a.k.a Alif Ainun ) dimulai dari Facebook gara-gara tulisan om Suyut Utomo berjudul Pentur Pertama di Forum Nusantaride yang begitu membuat saya begitu terkesan :) . Setelah berkenalan (lewat Facebook tentunya) dan dilanjutkan chit-chat ditambah dengan 2 kali event Nusantaride yang seperti-nya saya belum berjodoh bertemu dengan beliau, akhirnya saya-pun membuat janji untuk sowan ke tempat om Agus yang berlokasi di Cirebon. Diskusi dengan om Agus pun berlanjut, setelah melihat dan menimbang hari yang cocok akhirnya disepakatilah acara Pentur akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 08/03/2014 seharian penuh :)

Jum'at malam setelah pulang kantor, akhirnya saya pun bersiap-siap untuk meluncur ke Cirebon. Kalau tidak salah ingat, saya mulai start dari kos-kosan yang berada di kalimalang kurang lebih jam 19:30 malam. Untuk rute perjalanan ke Cirebon saya memilih jalur biasa yaitu Kalimalang -> Bekasi -> Cikampek -> Pamanukan -> Palimanan -> Cirebon, tidak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan malam itu selain hujan dan banyaknya jebakan betmen sepanjang jalur Bekasi sampai mau masuk Palimanan :( Perjalanan Jakarta - Cirebon ditempuh dengan kecepatan mentok di 90 km/jam :( dan akhirnya sampai dengan selamat di depan rumah om Agus kurang lebih jam 03:00 dini hari dan disambut dengan hangat oleh om Agus :)

Karena ini merupakan pertemuan pertama saya dengan om Agus, kesan pertama yang saya ingat waktu itu adalah om Agus sempat nyeletuk “Loh pake ban dual purpose?” dan sayapun cuma bisa nyengir :D Tetapi untung-nya om Agus sempat bilang “Tenang, besok jalurnya fun adventure kok. Bisalah pake ban dual purpose, tapi jangan kuatir pasti dapat keringat kok” :) Setelah bersalaman dan ngobrol sebentar akhirnya saya pun dipersilahkan istirahat untuk menyimpan tenaga buat besok.

Sebelum berangkat, om Agus sempat memberitahu saya bahwa rute yang akan saya lalui ini tidak jauh berbeda dengan rute yang di tempuh oleh Pakde Julianto Sasangko yang bisa saya simpulkan karakter dari ketiga rute tersebut kurang lebih seperti dibawah ini:

  • Berbecek-becek ria di lokasi pertambangan di daerah Kopi Luhur,
  • Berpanas-panas menuju Setu Patok,
  • Uji nyali di Lereng Gunung Ciremai

Kita mulai start dari rumah om Agus kurang lebih jam 09:30, dan langsung menuju lokasi pertambangan. Kondisi jalur menuju pertambangan lebih banyak di dominasi oleh tanah yang sedikit berlumpur dengan bekas lintasan ban truk sepanjang jalur, tidak ada tanjakan atau turunan curam di jalur ini tetapi cukup membuat saya cukup berkeringat :) Kalau kata om Agus, jalur ini adalah jalur pemanasan sebelum tantangan selanjutnya :) Setelah puas foto-foto, akhirnya kita pun melanjutkan ke destinasi kedua yaitu Setu Patok. Kondisi jalur menuju Setu Patok juga tidak kalah seru-nya, terutama ketika meninggalkan lokasi pertambangan. :)

Kondisi Jalur Pertambangan (Doc. Om Agus)

Bekas Jalur Truk (Doc. Om Agus)

Serunya Bermain Air (Doc. Om Agus)

Rute kedua kali ini sangat berbeda dengan kondisi sebelum-nya, sedikit lebih menantang bagi saya pribadi. Di rute kedua ini, jalur lebih banyak di dominasi oleh single track berupa tanah merah kering. Karena kondisi jalur-nya kering, sayapun akhirnya mencoba mengimbangi irama om Agus dalam menggeber motor-nya. Tapi apa daya, karena memang belum berpengalaman dan belum tahu teknik dan cara memilih jalur di medan offroad akhirnya saya-pun berhasil nyangkut disalah satu tanjakan menuju ke Setu Patok :D Setelah bersusah payah sedikit, akhirnya hurray bisa keluar juga.

Nah disini juga-lah akhirnya saya mendapatkan sesi “coaching clinic” pertama dari om Agus :) , “Kalau main di medan offroad jangan asal hajar, pinter-pinter milih jalur yang mau dilewatin. Kalau ga yakin, jangan ngebut tapi coba jalan-nya pelan-pelan dulu” kata om Agus sembari mengajak saya untuk mengulangi tanjakan tempat dimana saya nyangkut tadi :D Setelah mendapatkan pengarahan tersebut, akhir-nya sayapun dengan sukses melewati tanjakan tersebut dengan sukses :)

Salah Pilih Jalur (Doc. Om Agus) Nyangkut (Doc. Om Agus)

Kondisi Jalur (Doc. Om Agus) Indahnya Setu Patok dari Atas Bukit (Doc. Om Agus)

Percobaan ke 2 (Doc. Om Agus)

Setelah puas foto-foto diatas bukit, akhirnya om Agus pun mengajak saya untuk melihat Setu Patok lebih dekat lagi. Kondisi jalur ini ternyata lebih menantang dari jalur-jalur yang sudah di saya lewatin sebelumnya; tanah merah, batu-batu lepas dan ada beberapa titik adalah turunan yang tidak begitu curam sudah cukup untuk membuat saya berkeringat. Alhasil sayapun berhasil dengan sukses nyangkut berkali-kali disini dan klimaks-nya adalah sayapun berhasil terjungkal dengan sukses ketika ingin menaiki sebuah tanjakan kecil. Ternyata diatas tanjakan kecil ini saya bisa melihat indahnya Setu Patok yang diapit oleh hijau-nya dedaunan di kanan kiri, cukup membuat rasa lelah sedikit terobati.

Turunan dengan tanah merah (Doc. Om Agus) Nyangkut lagi (Doc. Om Agus)

Batu-batu lepas (Doc. Om Agus) Indahnya Setu Patok (Doc. Om Agus)

Perjalanan akhirnya kita lanjutkan lagi, om Agus mengajak saya untuk lebih mendekat ke Setu Patok sampai kita bisa mendekati bibir setu. Kondisi jalur single track , rapatnya tumbuhan di kanan kiri jalur dan beberapa turunan yang sedikit “curam” sukses membuat saya nyangkut dan beberapa kali terjatuh :D

Rapatnya tumbuhan di kanan kiri jalur (Doc. Om Agus)

Berusaha keras bangkit setelah nyungsep (Doc. Om Agus)

Wildan dan Kuda Lumpinx pose di bibir Setu Patok (Doc. Om Agus)

Dengan sampai-nya kita di bibir Setu Patok ini berarti tandanya bahwa kita sudah menyelesaikan etape ke dua dari 3 tujuan yang sudah di tentukan, dan ya akhirnya om Agus-pun mengajak saya untuk merasakan sensansi bermain enduro (meskipun saya menggunakan ban dual purpose ) ke lereng Ciremai. “Bagaimana sudah siap merasakan sensansi bermain enduro seperti di video Red Bull Romaniac ?” tanya om Agus pada saya yang secara spontan saya jawab “Hayuuk lah om :)” .

Akhirnya hujanpun turun ketika kita sedang dalam perjalanan menuju ke lereng gunung Ciremai, dan ketika tiba di sebuah tanah lapang saya lihat om Agus berhenti menunggu saya. Ketika saya mendekat, akhirnya om Agus-pun berkata “tin kalau mau geber gas, disini tempatnya. Anak-anak (teman-teman om Agus) kalau udah disini, pasti pada balapan sampai ketemu jalan aspal ujung sana.”, karena terbakar dengan omongan om Agus sayapun mulai tarik gas dalam-dalam. Tetapi sayang-nya saya lupa kalau ternyata saya menggunakan ban dual purpose yang cukup licin jika digunakan di kondisi jalur tanah merah dan basah, akhirnya sayapun dengan sukses tergelincir dengan cukup keras yang menyebabkan stang jadi bengkok sedikit lebih banyak ke arah kiri dan tuas perseneling yang posisi-nya jadi seperti menantang awan. Karena tuas perseneling tidak bisa kembali ke posisi normal meskipun sudah di tendang-tendang, akhirnya om Agus-pun memutuskan nanti mampir ke bengkel dahulu untuk mengembalikan tuas perneling ke posisi normal baru kemudian dilanjutkan ke lereng Ciremai.

Kondisi Wildan Setelah Terjatuh (Doc. Om Agus)

Tidak jauh dari tempat saya terjatuh ternyata terdapat sebuah bengkel, akhirnya kitapun mampir di bengkel tersebut untuk membetulkan posisi tuas perseneling saya. Setelah selesai membetulkan posisi tuas perseneling akhirnya kita pun memutuskan untuk istirahat makan siang dahulu di sebuah warung yang yang terdapat di pinggir jalan, menu kita siang itu adalah nasi uduk dan segelas kopi panas :)

Puas mengisi tenaga, akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali dan tujuan kita kali ini adalah lereng gunung Ciremai. Dengan kondisi cuaca yang masih hujan dengan intensitas lebat, akhirnya kitapun mulai memasuki lereng gunung Ciremai yang ditandai dengan mulai banyak-nya pohon-pohon pinus dan kondisi jalurnya adalah single track dengan sesekali terdapat batang pohon pinus yang melintang ditengah jalur.

Merasakan Rapatnya Hutan Pinus (Doc. Om Agus) Menikmati Keheningan di tengah Hutan (Doc. Om Agus)

Serasa Ikut di Event Red Bull Romaniac (Doc. Om Agus)

Menikmati Lereng Ciremai (Doc. Om Agus) Kondisi Tumbuhan di Jalur Semakin Rapat (Doc. Om Agus)

Kita sempat beristirahat sebentar di tengah hutan ini, sembari menghabiskan sebatang rokok saya pun sempat nyeletuk ke om Agus bahwa jalurnya ga jauh beda ama jalur pendakian :D Dan ternyata om Agus menimpali “Iya emang, ini enak kita masih turun. Nah kalau teman-teman jalur seperti ini dibuat kebalik. Dari bawah naik ke atas”, widih bisa dibayangkan bagaimana saya bakal benar-benar kesulitan :D Sebelum melanjutkan perjalanan, om Agus sempat memperingati saya bahwa nanti didepan akan terdapat sebuah turunan yang cukup “curam”. Setelah berkata demikian akhirnya perjalanan-pun kita lanjutkan kembali, tidak membutuhkan waktu yang lama buat kita untuk sampai pada turunan curam yang dimaksud oleh om Agus dan bagi saya ini turunan-nya benar-benar curam. Disini saya sempat berpikir cukup lama, apa mau diambil atau tidak, ditengah-tengah kegalauan saya om Agus sempat berceletuk “Gimana, berani ga? Kalau ga berani, sini biar saya aja yang bawa.” Setelah melihat-lihat situasi dan menimbang-nimbang, akhirnya saya beranikan diri untuk mengambil turunan ini dengan memantapkan hati jika sejelek-jeleknya nanti jika jatuh ke kanan atau ke kiri ya nyungsep ke semak-semak bukan di jurang :D

Akhirnya sayapun berhasil dengan selamat sampai dibawah ;) dan om Agus-pun berkata “Tenang, sebentar lagi kita sudah keluar dari hutan kok.”, dan saya pun akhirnya bisa tersenyum karena saya merasa bahwa ujian utama-nya sudah terlewati. Tapi untuk keluar dari hutan-pun bukanlah sesuatu yang mudah, ternyata di depan masih banyak turunan-turunan licin yang akhirnya berhasil membuat saya terjatuh untuk kesekian kali-nya disini. Kurang lebih jam 15:30 sore, akhirnya kita pun keluar dari lebatnya hutan pinus di lereng gunung Ciremai dan langsung pulang menuju ke rumah om Agus.

Turunan Curam (Doc. Om Agus)

Nyungsep Untuk Kesekian kalinya (Doc. Om Agus) Yeee Akhirnya Berhasil Keluar Juga (Doc. Om Agus)

Malam itu om Agus menyarankan saya supaya istirahat dulu dirumah-nya untuk memulihkan tenaga dan pulang ke Jakarta besok pagi-nya, tawaran ini pun saya terima dengan sukacita :) Dan akhirnya malam itu saya gunakan sebagai ajang konsultasi tentang semua hal yang berkaitan dengan dirt bike baik tips dan trik maupun masalah setting atau modifikasi motor trail, om Aguspun memberikan banyak saran kepada saya malam itu. Beberapa saran yang saya ingat betul pada ajang konsultasi malam itu kurang lebih seperti dibawah ini:

  • Sebelum melakukan modifikasi atau penggantian komponen, sebaiknya dicoba dulu di lapangan (bisa dibuat trabas atau latihan di sirkuit) supaya kita tidak salah modifikasi.
  • Jangan terlalu banyak bermain kopling kalau di medan enduro apalagi sampai nge-gantung, bisa dijamin kampas kopling langsung habis jika rute yang dilewati panjang, cukup mainkan gas saja untuk melewati rintangan-rintangan seperti batu atau tanjakan-tanjakan.
  • Jika pingin bisa lemes ketika trabas, sering-sering latihan atau ikut acara bareng anak-anak trail yang lain supaya mental dan skill makin terasah.
  • Kalau belum yakin dengan jalur yang mau diambil, coba lewati pelan-pelan jangan asal ngebut

Sebenarnya masih banyak beberapa saran yang diberikan om Agus malam itu, tetapi yang paling saya ingat adalah poin-poin diatas. Setelah sesi konsultasi dan ngobrol, akhirnya malam itupun saya tertidur dengan pulas. Saya terbangun di Minggu pagi itu kurang lebih jam 08:00, setelah mandi akhirnya om Agus-pun mengajak saya untuk mencari sarapan sembari berkeliling di sekitaran daerah rumah om Agus. Minggu pagi itu saya melihat banyak sekali komunitas-komunitas trail yang sedang bersiap-siap untuk melakukan adventure , akhirnya tibalah kita disebuah rumah makan langganan om Agus dan kemudian kita memesan makanan. Sembari menunggu pesanan datang, tiba-tiba datang serombongan motor trail ke rumah makan tempat kita dan ternyata mereka adalah teman-teman om Agus dalam ber-adventure jadilah sarapan pagi itu cukup hangat di sertai dengan cerita-cerita seru teman-teman om Agus :) Benar-benar suasana yang bikin kangen, bercanda dan tertawa bersama di tengah kehangatan :)

Karena dikejar waktu Senin harus masuk kerja, akhirnya sayapun dengan terpaksa harus segera kembali ke Jakarta meninggalkan semua kenangan indah di Cirebon. Seru-nya petualangan di Setu Patok dan Lereng Gunung Ciremai benar-benar sangat berkesan bagi saya, setelah berpamitan dengan om Agus dan keluarga akhirnya sayapun bertolak ke Jakarta kurang lebih jam 10:00 dan sampai dengan selamat di kos-kosan kurang lebih jam 18:00 :)

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: