Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Perjalanan Ke Kasepuhan Ciptagelar (Bagian 2)

| Comments

Sejuknya udara pagi itu di Kasepuhan Ciptagelar

Pagi itu saya bangun kurang lebih jam 08:30 pagi, dan ternyata teman-teman sudah tidak ada di kamar. Setelah keluar dari kamar, ternyata mereka sedang menikmati secangkir kopi di teras Imah Gede yang cukup luas itu. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyusul mereka ngobrol di teras depan, tak terasa sudah beberapa batang rokok yang sudah kita habiskan dan kopi di gelas yang juga sudah mulai menipis. Bagi saya pribadi, ini merupakan sebuah peringatan untuk segera angkat kaki melihat-lihat suasana di sekitar Imah Gede (tanpa mandi terlebih dahulu tentunya, karena cuaca pagi itu terbilang cukup dingin :D ) :)

Sebenarnya saya masih ingin berjalan-jalan menikmati suasana Kasepuhan Ciptagelar sembari menghangatkan badan ketika kita semua di panggil untuk segera sarapan, pagi itu kita sarapan dengan penuh canda tawa ketika membahas kejadian-kejadian lucu yang kita alami kemarin.

Leuit Jimat Podium Adat

Imah Gede TV Swadaya Ciptagelar

Suasana di Depan Imah Gede Pelataran Ciptagelar

Setelah selesai sarapan kita pun mulai packing untuk kembali lagi ke Jakarta, sesuai kesepakatan di malam sebelumnya jalur pulang yang akan kita tempuh adalah Pasir Kuray > Cisolok > Warung Banten > Citorek > Cipanas (kalau tidak salah, jalur ini adalah rekomendasi dari om Tendy Septiagara) Ketika kita sedang beres-beres perabotan lenong untuk pulang, tiba-tiba datang rombongan mobil yang ternyata mereka adalah turis asal Malaysia yang sedang berwisata di Kasepuhan Ciptagelar dan ditemani oleh seorang guide cewek :) Dan sebelum pulang, akhirnya kita sempatkan untuk foto keluarga (lagi) terlebih dahulu :)

Foto Keluarga Rame-rame bersama tour guide

Perjalanan pulang yang akan saya jalani ini ternyata adalah sebuah perjalanan yang cukup panjang, melelahkan dan paling menegangkan selama saya berwisata menggunakan kendaraan bermotor. Semua ini di awali oleh mendung yang menggantung di atas langit Kasepuhan Ciptagelar ketika kita akan pulang, tetapi mendung bukanlah pertanda hujan akan turun saat itu juga. Sebagai ganti atas rasa kekawatiran saya, pemandangan sepanjang jalan menuju ke Pasir Kuray sungguh sangat-sangat indah meskipun dengan jalan yang berbatu-batu:) Lebatnya hutan, hamparan sawah yang disusun secara terasiring, sungai lebar dengan airnya yang menimbulkan suara gemericik dan seru-nya melewati jembatan kayu merupakan kombinasi yang sangat harmoni bagi saya.

Mendung di Langit Ciptagelar

Sawah yang disusun terasiring

Serunya Melewati Jembatan Kayu

Hujan benar-benar mulai turun ketika kita memasuki daerah Citorek dan saya langsung teringat tulisan Om Menembus Batas Indonesia di Forum Nusantaride yang berjudul Cerita Indahnya Indonesia di Bumi Citorek, ternyata keindahan yang pernah saya baca dari tulisan Om Menembus Batas Indonesia benar-benar nyata ada-nya meskipun saat itu sedang hujan.

Waktu yang kita habiskan di Citorek ini tidak terlalu lama, kita cuma mampir ngopi disebuah warung dan kemudian perjalanan kita lanjutkan kembali dikarenakan takut ke-malaman dijalan. Ditengah perjalanan keluar Citorek sebuah insiden kecil dialami oleh Om Tendy Septiagara, dan akhirnya kita-pun berhenti sebentar untuk mengecek kondisi motor Om Tendy tersebut.

Memasuki Citorek

Rantai Motor Om Tendy Bermasalah

Karena saya tidak begitu mengenal medan dan jalur, saya cuma mengikuti Om Tendy Septiagara yang berperan sebagai penunjuk jalan. Tapi makin lama jalur yang kita lewati ini semakin mengecil dan mulai memasuki hutan. Yang membuat merinding saya adalah jalur yang kita tempuh mulai meninggalkan perkampungan penduduk dan waktu itu sudah mulai menjelang petang, kalau tidak salah kita mulai masuk hutan kurang lebih pukul 17:30 atau 17:45 sore. Terus terang saya sempat merasa takut (jiper) untuk berkendara malam-malam ditengah hutan, apalagi dengan jalur semi offroad karena sebelumnya saya juga tidak pernah.

Apa boleh buat akhirnya apa yang saya takutkan terjadi juga, suasana makin lama makin gelap. Akhirnya malam-pun tiba juga dan cuma kita ber-enam di tengah hutan malam-malam begini ditambah dengan gerimis rintik-rintik yang cukup membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya :( Suasana malam ditengah hutan waktu itu benar-benar sangat gelap, sumber cahaya cuma dari lampu motor kita saja. Pikiran aneh-aneh juga mulai muncul di kepala saya waktu itu “bagaimana klo sebelah kiri ini jurang?”, “bagaimana kalau ada harimau?” dan pikiran-pikiran aneh lain-nya :( Hingga akhirnya ketika kita tiba di suatu tempat yang agak lapang Om Tendy Septiagara memutuskan untuk istirahat sebentar sembari menghabiskan sebatang dua batang rokok, kebetulan sekali bisa untuk meredakan sedikit ketegangan yang saya alami :D Sembari beristirahat kita sempat bertemu dengan beberapa warga dan menyapa-nya, yang bikin saya makin kagum sama mereka adalah motor yang mereka gunakan sama sekali tidak dilengkapi dengan lampu penerangan dan sumber cahaya yang mereka gunakan cuma berasal dari headlamp yang di ikatkan di kepala mereka.

Pengalaman Pertama Riding Malam di Tengah Hutan

Tetap Eksis Walaupun Gelap Melanda

Sedikit Gila-gilaan Untuk Meredakan Ketegangan

Setelah beberapa jam melewati gelapnya hutan, akhirnya kitapun menemukan sebuah perkampungan dan kalau tidak salah kita sudah mulai masuk daerah Cipanas . Kondisi jalan juga sudah mulai berganti dari yang tadi-nya berbatu menjadi aspal mulus dan ini kita gunakan untuk sedikit menambah kecepatan, tetapi sayang-nya ditengah perjalanan saya akhirnya gantian mengalami kendala yaitu ban belakang saya yang bocor :(

Wadduh.. dimana harus mencari tambal ban malam-malam begini, dan kondisi kita juga masih belum ketemu dengan perkampungan hanya bangunan yang seperti vila saja yang kita temuin di sepanjang jalan. Akhirnya dengan terpaksa, motor tetap saya naikin meskipun ban belakang dalam keadaan kempes. Kalau tidak salah, setengah jam kemudian kita akhirnya menemukan sebuah tambal ban yang tutup. Akhirnya setelah memberanikan diri mengetuk pintu dan minta maaf karena sudah mengganggu istirahatnya, kitapun minta tolong ke abang-abang tersebut untuk menolong menambal ban saya. Dan untungnya, abang-abang tambal ban tersebut mau untuk menambal ban belakang saya meskipun kalau tidak salah itu sudah pukul 01:00 dinihari.

Bantuan Abang Tambal Ban di Tengah Malam

Selesai menambal ban dan mengucapkan rasa terima kasih kita, akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali. Tetapi sayang-nya masalah belum juga berakhir, sekarang gantian bensin yang mulai menipis. Masalahnya utama kita waktu itu adalah tidak ada POM Bensin yang buka 24 jam :( , untung-nya motor Febri Pies termasuk cukup irit dan bersedia bersedekah ke teman-teman yang kehabisan bensin lain-nya.

Bantuan seliter bensin dari Febri Pies ternyata cukup manjur, karena tidak lama kemudian kitapun akhirnya menemukan sebuah Alfamart yang mempunyai mesin ATM dan tidak jauh dari Alfamart tersebut terdapat sebuah POM Bensin yang buka. Setelah mengambil uang cash dan mulai menyelesaikan beberapa masalah administrasi diantara kita, akhirnya kitapun rame-rame mengisi bensin dan melanjutkan perjalan pulang menuju ke Jakarta :) Dan akhirnya, sayapun sampai di kosan kurang lebih pukul 05:30 pagi ditemani oleh Om Ar Farid dengan selamat ditambah kondisi yang super capek dan kurang tidur. Sesampai di kosan dan menurunkan perabotan lenong, sayapun lanjut mandi kemudian pergi ke kantor dengan kondisi terkantuk-kantuk.

Fyuh.. sebuah perjalanan menuju ke kasepuhan Ciptagelar dan Citorek bersama 5 orang bijak yang tidak akan terlupakan. Ramahnya penduduk lokal yang kita temuin, pengalaman terjatuh dari motor, dorong-dorong motor, helm yang bisa berenang, bensin dan duit yang menipis hingga ban bocor yang kejadian di tengah malam ditengah hutan yang ga akan pernah terlupakan ^_^

Catatan:

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: