Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Perjalanan Ke Kasepuhan Ciptagelar

| Comments

Suasana di Belakang Imah Gede

Perjalanan kali ini adalah perjalanan pada tahun lalu, tepatnya pada tanggal 20/10/2013 yang belum sempat di posting :( Awal mula dari perjalanan kali ini adalah ajakan dari om Ar Farid untuk menghadiri acara Seren Taun1 yang diadakan oleh Kasepuhan Adat Ciptagelar kalau tidak salah ingat pada bulan September 2013.

Berdasarkan info dari om Ar Farid, kita berdua akan riding bersama teamnya om Tendy Septiagara yang akan berkumpul di SPBU Warung Jambu - Bogor tepat jam 02:00 dinihari dan akan dilanjutkan riding malam melewati rute Bogor > Ciawi > Jalan Raya Sukabumi > Cikidang > Pelabuhan Ratu dan sarapan di Pelabuhan Ratu sedangkan untuk yang belum tahu tentang tujuan kita kali ini, berikut saya sertakan sedikit penjelasan tentang Kasepuhan Ciptagelar yang saya ambil dari Wikipedia seperti dibawah ini:

Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak, dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (Sd. sepuh, tua) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug[1]. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi.

Pemimpin adat di masing-masing Kasepuhan itu digelari Abah, yang dalam aktivitas pemerintahan adat sehari-hari dibantu oleh para pejabat adat yang disebut baris kolot (Sd. kolot, orang tua; kokolot, tetua). Kasepuhan Ciptagelar kini dipimpin oleh Abah Ugi, yang mewarisinya dari ayahnya, Abah Anom, yang meninggal dunia pada tahun 2007. Wilayah pengaruh kasepuhan ini di antaranya meliputi desa-desa Sirnaresmi dan Sirnarasa di Sukabumi. Sementara Kasepuhan Cisungsang berlokasi di Desa Cisungsang wilayah Lebak dipimpin oleh Abah Usep[3].

Salah satu ritual adat tahunan Kasepuhan yang selalu menarik minat masyarakat adalah upacara Seren Taun; yang sesungguhnya adalah pernyataan syukur warga Kasepuhan atas keberhasilan panen padi.

Kurang lebih tepat jam 02:00 dinihari akhirnya kita semua sudah berkumpul dengan manis di SPBU Warung Jambu - Bogor, dan team dalam perjalanan kali ini berjumlah 6 orang dengan 6 motor (2 matic, 1 motor bebek modifikasi trail, 1 klx dan 2 pulsar) yang terdiri dari Saya, Ar Farid, Tendy Septiagara, Mufid Amali, Febri Pies dan NoFree Motofreeders

Perjalanan malam itu ternyata sangat berkesan buat saya secara pribadi, terutama ketika memasuki daerah Cikidang yang saya ketahui mempunyai lebar jalan yang sempit (kalau sekarang sih sudah lebar), tikungan-tikungan-nya cukup tajam, menembus hutan sawit dan kita melewatinya pada malam hari ditemani oleh bulan purnama yang bersinar sangat terang tanpa gangguan awan sama sekali cukup membuat hati ini berdecak “betapa indah ciptaan Tuhan ini”. Tidak hanya keindahan bulan purnama saja yang saya lihat dan nikmati malam itu, tetapi saya juga sempat mencium bau harum bunga melati setelah melewati kampung terakhir (yang ternyata teman-teman yang lain juga mencium bau yang sama) :)

Kurang lebih jam 05:00 subuh akhirnya kita sampai di SPBU Pelabuhan Ratu yang dekat dengan pasar ikan, dan disini beberapa teman mulai menunaikan kewajiban-nya yaitu Sholat Subuh sedangkan saya sendiri memilih untuk merokok diluar area SPBU sembari melemaskan kaki-kaki yang terasa pegal. Setelah semua selesai menunaikan Sholat Subuh, akhirnya kita bersama-sama mencari warung untuk sarapan. Dari semua personel yang ikut dalam perjalanan ini, hanya 2 orang saja yang pernah/sering ke Ciptagelar yaitu om Tendy Septiagara dan om Mufid Amali maka sisanya termasuk saya hanya mengikuti saran-saran dari 2 orang bijak tersebut :D

Sekitar jam 06:30 kalau tidak salah, akhirnya kita mulai melanjutkan perjalanan menuju Kasepuhan Ciptagelar dengan menempuh rute dari Pelabuhan Ratu ambil rute ke arah Sawarna hingga menemukan Hotel Samudra Beach kemudian belok ke kanan Disini kita akan memasuki Kasepuhan Ciptagelar melalui Desa Ciptarasa yang merupakan salah satu pintu masuk dari 3 jalur menuju Ciptagelar2 dan merupakan jalur terindah karena kita akan menembus hutan Gunung Halimun sepanjang 9 kilometer :)

Perjalanan menuju Desa Ciptarasa benar-benar cukup menantang tapi juga diselingi dengan pemandangan yang sangat indah meskipun dengan jalan yang semi offroad :) , dari pertigaan di Hotel Samudra Beach sampai ke gapura Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini jalur dan pemandangan-nya tidak boleh dilewatkan begitu saja dan inilah yang akan kita dapat ketika kesana :)

Disambut dengan Hamparan Bukit Jalur Kecil dari Tanah Itulah Jalan Kita

Matic pun Juga Bisa Lewat Trail Jadi jadian

Foto Keluarga di Pintu Masuk

Apa yang kita temukan/lihat setelah Pintu Masuk Gunung Halimun Salak menuju ke Ciptarasa ternyata juga tidak kalah seru-nya, disini kita menemukan sebuah situs purbakala yaitu Situs Pangguyangan tetapi kita tidak masuk ke dalam dan hanya foto-foto dari luar saja.

Situs Pangguyangan Lokasi Situs Pangguyangan

Menuju Desa Ciptarasa bagi kita bisa disebut sebagai sebuah perjuangan :D padahal ini juga belum masuk ke dalam hutan-nya yang mempunyai panjang 9 kilometer dan mempunyai tanjakan yang cukup panjang :D , ada beberapa kejadian lucu yang cukup menghibur kita ketika menuju Ciptarasa yaitu om Mufid Amali yang terpaksa mendorong motor matic-nya karena takut kampas-nya habis dan om Tendy Septiagara yang ternyata juga kehilangan knalpotnya (beliau menggunakan 2 knalpot, 1 untuk aksesori dan 1 lagi knalpot aslinya) Kita sampai di pintu gerbang menuju hutan kira-kira sekitar jam 10:00 pagi dan disini juga akhirnya kita memutuskan untuk makan siang dan beristirahat selama 1 jam kedepan (sekedar catatan, kopi yang disediakan oleh penduduk Ciptarasa ini enak loh rasanya seperti ada coklat-coklatnya begitu. Tapi jangan pilih yang kopi sachet ya, minta kopi buatan mereka sendiri)

Perjuangan Menuju Ciptarasa Om Mufid Terpaksa Menuntun Motor

Pintu Terakhir Ciptarasa Rumah Terakhir

Bale-bale tempat Kita Istirahat Korban Knalpot Yang Hilang

Setelah puas istirahat, akhirnya kita melanjutkan perjalanan menuju Ciptagelar dan sebelum melanjutkan perjalanan kita diwajibkan membayar biaya sebesar Rp. 5.000,- per motor sebagai sumbangan. Dan disini om Tendy Septiagara yang sebelumnya sudah pernah ke Ciptagelar menyarankan agar ketika kita mendapat jalur tanjakan supaya jalan bergantian, karena tanjakan disini cukup panjang dan jika ada belokan maka belokan-nya akan sangat tajam dan masih terus menanjak. Puji Tuhan karena sejauh perjalanan ini kita semua tidak mengalami suatu kendala apapun dan zero accident hurray :) , setelah ini jalur yang kita hadapi benar-benar cukup menantang terutama dengan tanjakan-nya dan dibumbui cerita dari om Tendy Septiagara bahwa waktu Seren Taun kemarin beliau tidak sampai ke Ciptagelar karena jalur sempat terjatuh beberapa kali karena medan yang dilalui begitu berat dengan kombinasi tanah merah yang licin karena dilewati oleh mobil-mobil 4 WD plus motor trail yang membuat jalur batu menjadi tertutup tanah merah.

Ditengah perjalanan kita juga sempat berhenti untuk foto-foto dan om Tendy Septiagara menunjukkan tempat dimana beliau terjatuh, setelah itu kata beliau jalur yang akan kita hadapi benar-benar cukup bikin spot jantung dengan kombinasi tanjakan dan turunan yang cukup curam. Tetapi asyik-nya lagi, dijalur ini ada beberapa pos yang dibangun oleh penduduk untuk beristirahat karena mayoritas penduduk Ciptagelar kalau ingin menuju ke Ciptarasa kebanyakan hanya berjalan kaki menembus hutan sepanjang 9 kilometer ini, ini seperti pos-pos yang bisa kita temukan di gunung ketika kita melakukan pendakian :)

Foto Keluarga Dulu Gantian ya Jalannya

Itu tuh Disana Pas Jatuh Air Yang Jernih

Kondisi Jalur Lebatnya Hutan Gunung Halimun

Foto Keluarga Lagi di Dalam Hutan

Puas foto-foto, akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali. Perjalanan kali ini benar-benar menguras tenaga, dikarenakan antrian kita sempat terpecah dengan adanya motor penduduk yang sedang turun tepat di tikungan. Dengan posisi yang tidak pas karena kita sedang menanjak dan menghadapi tikungan, akhirnya om Ar Farid dan Febri Pies pun kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh karena kaget mendengar suara klakson yang tiba-tiba, untung-nya om Ar Farid tidak sampai jatuh ke jurang karena beliau jatuh-nya pas disisi jurang.

Ternyata perjuangan kita juga tidak berhenti sampai disitu, disebuah tikungan yang menanjak ternyata motor om Ar Farid mengalami kendala lagi dan tidak mau menanjak meskipun rpm motor sudah tinggi untung-nya ada om Tendy Septiagara yang dengan sigap turun membantu hingga akhirnya om Ar Farid tidak terjatuh lagi. Tapi kejadian ini membuat saya yang jalan belakangan kaget ketika mengambil tikungan ternyata om Ar Farid dan Tendy Septiagara berada di tengah jalan, kejadian ini menyebabkan saya membanting kemudi ke arah kanan yang mana itu tebing dan akhirnya dengan sukses nyungsep ditindih motor :D (Jika saya mengambil jalur kiri sesuai saran om Tendy Septiagara , saya tidak akan berani karena disisi kiri adalah jurang yang cukup dalam :D)

Perjuangan ternyata belum berhenti :( ditengah perasaan was-was karena kita tidak tahu jalur seperti apakah yang ada di depan, ternyata tiba-tiba hujanpun turun dengan deras-nya dan ini membuat saya terutama makin bergidik karena baru kali ini saya mengalami jalur yang menurut saya paling extreme selama saya motoran. Bagaimana tidak, dengan kondisi tidak hujan saja kita sudah seperti ini bagaimana jika hujan ? Otomatis jalur yang kita lewati jadi makin licin :( Dan akhirnya ditengah perjalanan kita menemukan sebuah pos, sampai disini kita semua sepakat untuk beristirahat dulu menunggu hujan sedikit reda dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Sembari beristirahat akhir-nya kita bercanda-canda dan memakan camilan agar tenaga kita pulih untuk menghadapi medan selanjut-nya yang saya sendiri juga belum tahu seperti apa :D

Ayo Gas Lagi

Istirahat di Pos Menunggu Hujan Reda Ambil Napas Setelah Berjuang

Ternyata hujan yang ditunggu tidak kunjung reda juga, akhirnya kitapun terpaksa menggunakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan ini ditemani dengan guyuran air hujan. Sedangkan medan yang kita hadapin di depan adalah tanjakan, dan setelah tanjakan ini nanti akan terdapat sebuah jembatan terakhir sebelum memasuki kampung Ciptagelar kata om Tendy Septiagara. Apa yang mau dikata, akhirnya kitapun melanjutkan perjalanan ini. Dan memang benar, tanjakan dan turunan-nya emang benar-benar mantap :D Setelah melewati beberapa tanjakan dan turunan, akhirnya saya sampai juga di jembatan terakhir yang dimaksud oleh om Tendy Septiagara kemudian disusul oleh om Ar Farid. Disini kita berdua beristirahat lagi karena hawa-nya cukup dingin sembari menunggu rombongan yang lain tiba, selain itu saya cukup shock karena melihat didepan jalur yang akan dihadapi cukup menanjak setelah belokan.

Lihat Turunannya Dan Didepannya Belok Langsung Nanjak

Tidak berapa lama kemudian, rombongan teman-teman yang lain akhirnya datang juga dan akhirnya kita memutuskan untuk istirahat lagi disini :) (sayang-nya diantara kita tidak ada yang membawa kompor lapangan :( padahal tempatnya cocok banget untuk ngupi-ngupi) Ketika sedang enak-enaknya istirahat sembari menghisap sebatang rokok, tiba-tiba kita semua mendengar suara byuuuur yang ternyata helm saya jatuh nyemplung ke sungai karena ke senggol om Mufid Amali secara tidak sengaja dan untung-nya om Mufid Amali dengan sigap segera turun ke sungai dan mengambil helm saya karena posisi terdekat dengan sungai adalah beliau dan yang bikin kita tertawa terbahak-bahak adalah aksi heroik yang di tampilkan oleh om Mufid Amali ketika menyelamatkan helm saya :D

Horee… akhirnya si Helm Bisa Diselamatkan

Puas foto-foto akhirnya om Tendy Septiagara memberi tahu bahwa tanjakan didepan kita ini adalah tanjakan yang terakhir dan setelah ini maka kita sudah memasuki Kasepuhan Ciptagelar . Karena tanjakan di depan masih sama curam-nya, maka kita melewatinya bergantian satu persatu. Dan benar seperti yang om Tendy Septiagara katakan sebelumnya, setelah saya berhasil melewati tikungan terakhir maka taaaraaaaa…. Kasepuhan Ciptagelar sudah terlihat :) senang rasanya akhirnya menemukan kehidupan lagi setelah berjuang menembus hutan sepanjang 9 kilometer :) Ketika satu persatu personel sudah sampai di atas tikungan terakhir, ternyata om Tendy Septiagara belum sampai juga. Karena takut terjadi apa-apa, maka akhirnya kita mencoba turun kebawah melihat apa yang terjadi, ternyata om Tendy Septiagara sempat jatuh juga di tikungan terakhir. Sembari ketawa-ketawa akhirnya kita pun rame-rame ikut mendorong motor om Tendy Septiagara :D ^_^

Ciptagelar di Kejauhan Yuk dorong-dorong

Setelah semua sampai diatas, akhirnya perjalanan kita lanjutkan tanpa istirahat lagi karena sudah mulai gelap dan masih hujan. Setelah “pintu gerbang” tersebut, kondisi medan yang kita lalui sudah cukup bersahabat dengan tidak adanya tanjakan yang curam melainkan berganti dengan tanah merah yang basah karena kondisi yang sedang hujan :D . Perjalanan kita berhenti ketika menemukan sebuah rumah penduduk yang ternyata juga mempunyai warung, dan sepertinya inilah rumah pertama yang kita temui setelah keluar dari hutan tadi. Dan di warung inilah kita agak sedikit jadi kalap dengan memesan beberapa gelas kopi dan minuman hangat yang lain ditambah dengan mie rebus karena kondisi perut yang sudah lapar dan cuaca yang cukup dingin :D

Rumah Pertama yang Kita Temuin Kondisi Jalanan Setelah Hutan

Puas mengisi tenaga, akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali menuju ke Imah Gede yang kata om Tendy Septiagara sudah tidak jauh lagi. Dan ketika gelap menjelang kitapun akhirnya sampai di Imah Gede dengan selamat tanpa suatu apapun, disini kita disambut dengan hangat bagaikan saudara jauh padahal saya sama sekali belum pernah ke Ciptagelar sebelumnya. Kita dipersilahkan untuk masuk ke Imah Gede dan disarankan untuk berganti pakaian kemudian mandi dikarenakan baju kita semua sudah kotor oleh lumpur, setelah mandi dan berganti pakaian kita ternyata juga disuguhi makan malam yang sudah dipersiapkan ketika kita datang tadi3. Puas makan kitapun ngobrol di ruang tamu yang terdapat di Imah Gede dengan suguhan kopi ditambah dengan cerita tentang Ciptagelar dan kebetulan sekali sewaktu kita datang ternyata ada juga orang dari Suku Baduy yang bertamu ke Ciptagelar ini :)

Menikmati Suguhan Kopi Saudara dari Suku Baduy

(Bersambung)


  1. Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Wikipedia Seren Taun

  2. Ada 3 jalur utama yaitu Sukawayana, kampung Sirnaresmi dan yang terakhir adalah lewat Cicadas-Cikadu-Gunung Bongkok di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Untuk lebih detail silahkan baca artikel 3 Jalur Kendaraan Menuju Ciptagelar

  3. Sekedar catatan nasi di Ciptagelar ini rasanya enak dengan butiran nasinya yang besar-besar.

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: