Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Berburu Sunset Di Pantai Ranca Buaya Dan Pantai Santolo

| Comments

Sunset yang terhalang awan di Pantai Santolo

Sebenarnya perjalanan kali ini terinspirasi dari Ride Report om Debian di forum Nusantaride dengan judul Ekspedisi Menyingkap Keindahan 8 Pantai Tersembuyi di Garut, nah karena tergiur dengan pemandangan yang terdapat pada tulisan om Debian akhirnya sayapun berusaha meracuni beberapa teman untuk ikutan jalan menuju ke Pantai Ranca Buaya di akhir maret nanti tepatnya waktu long weekend di tanggal 29-31 Maret 2013 :) Dan ternyata, respon teman-teman cukup baik juga dengan menyatakan bahwa mereka tertarik untuk ikutan riding bareng menuju ke Pantai Ranca Buaya :)

Setelah tanggal keberangkatan dan titik kumpul disetujui (di Ardvark Garage), maka langkah terakhir yang harus disiapkan adalah motor yang akan digunakan :) Tapi untungnya si “Geny” juga barusan di service setelah mengikuti acara Ride, Lunch and Laugh; jadi sepertinya persiapan sudah matang dan tinggal menunggu hari keberangkatan saja.

Rencana tetaplah rencana, dari beberapa teman yang awalnya menyanggupi untuk ikut di hari-hari terakhir ternyata berhalangan dan menyisakan cuma saya dan babe Andriansyah Ayahnya Putra yang sampai detik terakhir masih bertahan dengan rencana awal. Karena gejolak di hati yang penasaran dengan pemandangan disepanjang rute menuju ke garut selatan sudah menggebu-gebu, akhirnya sayapun memantapkan hati tetap berangkat meskipun cuma berdua saja. Apalagi sempat dipanas-panasin oleh babe Andriansyah Ayahnya Putra dengan memposting foto-foto pemandangan rute menuju ke Pantai Ranca Buaya, dan akhirnya sayapun berkoordinasi dengan babe bahwa kita akan berangkat dari bengkel tepat jam 22:00. Hari itu Kamis tanggal 28/03/2013 dengan posisi masih di kantor, saya mengabari babe lewat FaceBook Message bahwa saya akan berangkat menuju bengkel jam 21:30 dari kos. Dan ketika jam pulang kantor tiba, tak disangka ternyata hujan mengguyur Jakarta. Bisa dibayangkan bukan kondisi jalanan di Jakarta bagaimana ? Yaps pastinya macet karena hujan dan akan libur panjang :(

Kondisi tersebut menyebabkan saya sampai di kos kira-kira jam 20:30 dengan kondisi yang masih hujan, setelah mandi dan packing. Sembari makan saya mencoba menghubungi babe sekedar untuk menanyakan karena sampai saat ini hujan masih mengguyur kota Jakarta. Untungnya tepat jam 21:00 hujan sudah mulai reda, dan akhirnya sayapun konfirmasi ulang ke babe dimana posisi terakhir saat ini. Dan ternyata babe sudah berada di bengkel, tidak begitu lama tepat jam 21:30 akhirnya sayapun ikutan merapat ke bengkel. Sesampai di bengkel, sayapun diberitahu kalau Tarmizi ternyata juga ingin ikut.

Setelah semua personel telah lengkap, akhirnya tepat jam 23:00 kitapun mulai riding bareng dengan start dari Ardvark Garage :)

Tarmizi, Saya dan Babe

Dan dibawah ini adalah rute yang akan kita tempuh dalam perjalanan kali ini :)


View Rute Perjalanan Ke Pantai Ranca Buaya dan Santolo Garut Selatan in a larger map

Sebelum mulai perjalanan ini supaya lebih aman, kita bertiga sepakat untuk mengisi bensin dahulu di POM bensin di daerah Cipinang Muara tepat di dekat Ardvark Garage. Di pom bensin ini, kita semua sepakat untuk mengisi full tank dan ternyata si “Geny” hanya menghabiskan Rp. 8.000,- premium dan babe Rp. 12.000,- sedangkan Tarmizi menghabiskan Rp. 15.000,- dengan kombinasi premium + pertamax. Setelah mengisi bensin, kita sepakat tiap 2 jam sekali berhenti di POM Bensin untuk mengisi bensin lagi sekedar sebagai langkah jaga-jaga saja. Suasana perjalanan malam itu terasa biasa-biasa saja dan cenderung membosankan dikarenakan bertepatan dengan long weekend yang menyebabkan arah menuju puncak cukup padat, dan rest point pertama yang kita tuju adalah warung bubur ayam di Cianjur yang beralamat di jalan HOS. Cokroaminoto yang menurut teman-teman rasanya enak. Karena arus kendaraan yang cukup padat malam itu di puncak, akhirnya kita memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah Indomart untuk sekedar membeli minuman dan menghabiskan sebatang rokok dahulu baru kemudian melanjutkan perjalanan kita malam ini ;)

Mampir Dulu di Indomart

Di daerah puncak setelah beristirahat sebentar di Indomart, kita juga mampir lagi ke sebuah POM Bensin untuk kedua kalinya. Dan di POM Bensin ini, saya dan babe menghabiskan Rp. 8.000,- untuk premium sedangkan Tarmizi cuma menghabiskan Rp. 7.000,- untuk premium (hmm… cukup irit juga nih motor Tarmizi, apa resepnya yah? :D) Setelah mengisi bensin, akhirnya perjalananpun kita lanjutkan menuju ke rest point pertama kita di Cianjur. Perjalanan menuju Cianjur ini kita lewati dengan sangat santai dan tidak begitu menggeber gas terlalu dalam, angka yang tercatat di spidometer saya menunjukkan bahwa kita berjalan pada kecepatan kurang lebih 40-50 km/jam cukup santai bukan ? :D

Kondisi jalanan selepas puncak lumayan sepi waktu kita lewat kemarin, karena sepertinya kepadatan arus hanya sampai di puncak pas saja malam itu dan situasi ini cukup melegakan kita bertiga :) Setelah memasuki kota Cianjur target pertama kita adalah mencari jalan HOS. Cokroaminoto tempat penjual bubur ayam yang katanya enak itu, tapi sayangnya pencarian kita tidak semulus harapan :D Jalan HOS. Cokroaminoto sebenarnya sudah kita temukan, tapi yang jadi masalah adalah di mana warung yang jualan bubur ayam tersebut ? Setelah beberapa kali bertanya ke orang-orang yang kita temui, akhirnya kita berhasil menemukan warung :) Tapi koq tutup ya ? berdasarkan informasi dari tukang parkir yang biasa mangkal di warung tersebut, bubur ayam ini buka cuma sampai jam 00:00 dan memang warung ini biasanya dijadikan tempat berkumpulnya beberapa pengendara motor untuk menghabiskan malam di kota Cianjur :( Sedangkan kita sampai di sini tepat jam 02:30 pagi, nah karena tukang parkir tersebut tahu kalau kita dari Jakarta dan kita juga sedang kelaparan. Akhirnya tukang parkir yang baik hati tersebut menunjukkan sebuah warung yang dekat dengan warung bubur ayam yang kita tuju, dan akhirnya kitapun memutuskan untuk sarapan disana dan melanjutkan perjalanan setelah sholat subuh.

Istirahat Dulu Menu Sarapan

Daftar Harga

Sarapan kita kali ini bertiga menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 54.000,- seperti terlihat pada kertas bon dibawah ini :D

Biaya Sarapan

Setelah perut kenyang dan sedikit meluruskan punggung, tepat jam 05:30 akhirnya kita bertiga melanjutkan perjalanan menuju ke Pantai Ranca Buaya dengan melewati rute yang kalau tidak salah yaitu Cibeber > Sukanagara > Sinang Barang > Sindang Barang > Cidaun. Perjalanan keluar Cianjur cukup menyenangkan dikarenakan jalanan cukup mulus, tapi sayangnya ditengah perjalanan motor babe mengalami sebuah masalah yaitu roda belakangnya ternyata goyang-goyang seperti mau lepas dan ini memaksa kita bertiga untuk menepi sebentar untuk mulai mengencangkan beberapa baut yang kendor. Setelah motor babe dibetulkan, akhirnya perjalanan dapat kita lanjutkan dengan kondisi jalanan yang mulus dan sedikit berkelok-kelok menambah semangat kita pagi itu. Hingga tiba disuatu belokan, mata ini melihat sebuah pemandangan yang cukup membuat hati ini bahagia dan akhirnya kitapun berhenti disini untuk sekedar mengabadikan pemandangan yang sedang kita saksikan dan tak lupa sekalian bernarsis ria :D

Bonus Sun Rise? Pemandangan dilihat dari Pojok Tikungan

Kabut Kondisi Jalan yang Mulus

Tikungan yang menggoda untuk cornering Tidak Lupa Narsis

Setelah puas foto-foto akhirnya perjalananpun dilanjutkan dengan riang dan gembira, sayangnya ternyata jalanan dengan aspal mulus cuma sampai tempat kita foto-foto barusan :swt: selanjutnya kondisi jalanan sudah mulai tidak rata dan berlubang disana-sini seperti terlihat dibawah ini :

Kondisi Jalan yang Mulai Jelek Kondisi beberapa ruas jalan

Ditengah kondisi jalanan yang seperti ini, ternyata motor babe mengalami masalah lagi dan ini menyebabkan babe dan Tarmizi jadi tertinggal dibelakang saya. Karena saya sadar bahwa babe dan Tarmizi sudah tidak ada dibelakang saya, maka akhirnya sayapun menepi ke sebuah warung untuk ngopi sembari menunggu babe dan Tarmizi datang :) Setelah menunggu beberapa lama babe dan Tarmizi tidak muncul-muncul, ditambah dengan sms dari Tarmizi kalau ternyata babe memmbutuhkan bantuan. Maka akhirnya saya pun menyusul mereka berdua yang tertinggal di belakang, belum berapa lama menyusul ke arah putar balik akhirnya saya bertemu di tengah jalan. Dan disini akhirnya saya berinisiatif untuk berjalan dibelakang saja, sedangkan babe di depan dan Tarmizi di tengah.

Ditengah perjalanan akhirnya kita mampir lagi disebuah SPBU dengan nomor 34.43213 untuk mengisi bensin (disini si “Geny” menghabiskan Rp. 10.000,- untuk premium, sedangkan babe dan Tarmizi masing-masing menghabiskan Rp. 8.000,- untuk premium) dan sekalian beristirahat sebentar dan mengecek kondisi kendaraan si babe yang bermasalah, disini kita juga bertemu dengan rombongan anak-anak kampus (dugh lupa saya nama kampusnya apa dan tujuan mereka kemana :swt: ) yang juga ingin menuju ke Garut Selatan. Dan disini babe juga bilang, bahwa pantai Santolo itu pemandangannya lebih indah daripada di Ranca Buaya. Dan kitapun memutuskan bahwa jika tidak capek maka kita akan menuju ke Santolo juga, karena berdasarkan info yang saya baca-baca di internet penginapan hanya terdapat di pantai Ranca Buaya sedangkan untuk ke pantai Santolo saya tidak menemukan referensi apapun.

Pemandangan di depan SPBU SPBU 34.43213

Babe Lagi Melakukan Pengecekan

Selepas dari POM Bensin 34.43213 ini, pemandangan yang kita saksikan sungguh membuat mata ini menjadi sejuk. Bagaimana tidak, disepanjang perjalanan yang kita saksikan adalah pemandangan bukit-bukit kebun teh yang menghampar luas. Cukup membuat perasaan ini menjadi lebih tenang dan bahagia, meskipun kondisi jalanan juga tidak bisa dikatakan bagus :D

Memandang Awan di Atas Kebun Teh Hamparan Kebun Teh

Tarmizi dan Babe

Puas foto-foto akhirnya perjalanan kita lanjutkan kembali, tetap dengan kondisi jalanan yang berlubang di beberapa sisi. Tiba-tiba di tengah jalan, Tarmizi berusaha mendekati babe dan menyuruh babe untuk menepi sebentar. Dan setelah di cek, ternyata ada baut pengikat plat ke knalpot milik babe lepas lagi. Dan ternyata baut lepas ini sudah 2 kali ini dialami oleh babe yang menyebabkan cadangan baut babe habis, karena sudah tidak memiliki baut akhirnya babe mencoba mengikatnya dengan kabel tis yang dibawanya. Meskipun oleh penduduk sekitar diberitahu beli saja baut di bengkel yang letaknya cuma berjarak beberapa meter dari lokasi kita berhenti, akhirnya berdasarkan diskusi babe-pun menunda beli baut sekarang takutnya nanti jika lepas lagi dan memilih untuk menggunakan kabel tis saja.

Tidak Ada Baut Kabel Tispun Jadi Kondisi Jalanan Yang Merenggut Baut Knalpot Babe

Di sepanjang perjalanan setelah tragedi baut lepas diatas, kita lebih banyak disuguhi pemandangan khas daerah pegunungan yang didominasi jalanan yang berkelok-kelok, sungai yang berbatu-batu dan hamparan awan yang menggantung dilangit (halah lebay #$#&#&$# :tinju: ) Haish.. intinya sih pemandangan yang kita nikmatin indah banget lah :D

Sungai dengan batuan khasnya Hamparan Awan

Bagaikan membelah hutan Hamparan Sawah yang Menguning

Hamparan Awan Kelokan-kelokan Khas

Ketika sedang enak-enaknya menikmati perjalanan yang berkelok-kelok, tiba-tiba disebuah belokan saya melihat sebuah curug yang dengan gagahnya berada disamping jalan. Dan ini memaksa saya untuk berhenti sejenak dan mengabadikan momen ini :)

Curug Cipalasari Narsis Dulu

Si Geny Berpose Di Curug Cipalasari

Catatan: Nama curug cipalasari ini saya dapatkan dari ibu-ibu penjaga warung yang tepat berada disamping curug ini ketika saya bertanya ke beliau. Masalah betul atau tidaknya, saya juga masih tidak tahu :D

Hari semakin siang dan kondisi cuaca juga semakin panas karena sudah hampir mendekati jam 12:00 siang, kondisi jalananpun sudah berubah dari yang tadinya kita melewati bukit-bukit dengan udaranya yang sejuk menjadi cukup panas sekarang karena kita sudah mulai memasuki daerah pantai. Dengan kondisi yang panas dan perut yang lapar sedangkan jarak untuk menuju ke pantai Ranca Buaya ternyata juga masih jauh, ditambah kondisi jalanan yang membuat kita tidak bisa ngebut. Membuat kita bertiga makin bertambah capek dan dehidrasi karena kita juga sudah bermandikan keringat karena kepanasan :D , sampai disini Tarmizi sepertinya juga sudah mulai menyerah karena dia tidak menyangka bahwa rute yang kita lewati kali ini benar-benar cukup parah. Bukan karena lubangnya yang dalam atau besar-besar, cuma karena kondisi jalanan yang rusak seperti ini hampir kita temuin sejak keluar dari kota Cianjur.

Dan akhirnya kita bertiga-pun memutuskan untuk beristirahat sembari makan siang disebuah warung, dan disini kita beristirahat cukup lama karena ternyata cukup capek juga ya perjalanan kali ini :D Berdasarkan info dari ibu penjaga warung tempat kita makan siang, kita baru tahu kalau ternyata Pantai Ranca Buaya masih jauh dari sini kira-kira jaraknya ~+ 5 km lagi sedangkan untuk ke Pantai Santolo masih ~+ 20 km. Dan si ibu ini juga bilang, kalau mau pantai yang deket ya sebaiknya ke Pantai Jayanti saja karena jaraknya cuma ~+ 3 km dari tempat si ibu ini berjualan, hasrat hati sih sebenarnya kepingin mampir dulu ke pantai Jayanti tapi karena kondisi badan yang capek dan pingin cepat-cepat mandi menyebabkan rencana mampir ke pantai Jayanti ini jadi tertunda.

Setelah berhasil mengumpulkan energi, maka akhirnya kita-pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda dengan tujuan utama yaitu ke Pantai Ranca Buaya sekedar untuk foto-foto baru kemudian lanjut lagi menuju ke Pantai Santolo untuk mencari penginapan. Suasana perjalanan ketika mendekati pantai Ranca Buaya sangat-sangat indah, banyak view-view bagus yang cocok dijadikan sebagai ajang bernarsis ria. Tapi sayang, karena spot-nya yang terlalu banyak ini berhasil menyebabkan saya bingung mau melakukan sesi foto-foto dimana ? :nangis: dan hasil akhirnya sayapun berhasil mengabadikan beberapa view sebelum baterai HP saya habis dengan sukses :monyong:

Pantai Ranca Buaya Terlihat Dari Kejauhan Pantai Ranca Buaya di Lihat dari Rumah Penduduk

Jalanan menuju ke Pantai Ranca Buaya Sejenak Bisa Menikmati Mulusnya Kondisi Jalanan

Karena terpesona dengan keindahan pemandangan yang dihadirkan, tidak terasa kita akhirnya sampai pada sebuah perempatan yang diatas-nya terdapat petunjuk jalan kalau kita belok ke kanan akan menuju ke Pantai Ranca Buaya dan jika terus akan menuju ke Pantai Santolo, secara otomatis maka kemudi motorpun kita arahkan ke kanan mengikuti petunjuk arah tersebut untuk segera memasuki area wisata Pantai Ranca Buaya (hore akhirnya kita sampai juga :gembira: ). Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp 12.000,- (untuk 3 orang dan 3 motor) akhirnya kitapun mencari-cari spot yang bagus untuk melakukan foto-foto dan tentunya beristirahat sebentar disini, kita sampai di Pantai Ranca Buaya ini sekitar jam 14:30 sore dan kita berencana untuk beristirahat dahulu disebuah bale-bale baru kemudian melanjutkan perjalanan ini menuju ke pantai Santolo :)

Tiket Masuk Berteduh di Bale-bale

Tidur Sejenak Melepas Penat Pantai Ranca Buaya

Penginapan di Pantai Ranca Buaya Pantai Ranca Buaya dengan Karangnya

Sembari teman-teman beristirahat, akhirnya sayapun menggunakan kesempatan ini untuk mengisi ulang batere HP saya yang habis dengan cara nebeng di salah satu penginapan :D Biar kesan-nya tidak cuma nebeng saja, sayapun sekalian membeli secangkir kopi :D Kita beristirahat disini cuma setengah jam saja, karena dorongan untuk melihat sunset di pantai Santolo begitu kuat-nya :D Akhirnya tepat jam 15:00 kitapun mulai bersiap-siap pergi, tapi sebelum kita meninggalkan lokasi ada ibu-ibu yang datang mendekati kita meminta uang jasa sewa bale-bale sebesar Rp 10.000,- Karena terkejut akhirnya kita bayar juga, setelah ibu-ibu itu pergi barulah kita sadar bahwa ternyata bale-bale yang kita tempati itu tidak gratis alias disewakan :chicken:

Ternyata di Sewakan

Kondisi jalanan menuju ke Pantai Santolo ternyata juga tidak begitu bagus, karena aspal mulus ternyata cuma ada di perempatan menuju ke Pantai Ranca Buaya saja. Tapi untungnya kondisi jalanan yang tidak begitu bagus tertutup oleh menawan-nya pemandangan lautan luas disepanjang jalan yang kita lewatin, benar-benar begitu indah. Tidak begitu lama, akhirnya kita sampai di sebuah pertigaan yang disebelah kirinya adalah Alfamart. Disini kita sempat bingung arah menuju ke Pantai Santolo itu terus atau belok kanan, tapi untungnya kita diselamatkan oleh Google Maps dari HP si babe yang menyuruh kita untuk belok kanan saja. Setelah membayar biaya masuk Pantai Santolo akhirnya kita riding terus untuk menuju ke bibir pantai sekaligus mencari penginapan, tapi ternyata di daerah Pantai Santolo ini juga terdapat Stasiun Peluncuran Roket dan ini tidak saya siakan-siakan untuk bernarsis ria :D

Pemandangan Selepas Ranca Buaya Kondisi Jalanan

Pertigaan Pintu Masuk Pantai Santolo Pintu Masuk Pantai Santolo

Bayar Biaya Masuk ke Pantai Santolo Geny Narsis di LAPAN

Dan akhirnya TA…DAA….. kita sampai juga di Pantai Santolo kurang lebih jam 17:00 :gembira: :gembira: :gembira: , akhirnya perjalanan panjang ini berhasil kita lalui juga :silau: . Setelah nego-nego kamar penginapan, akhirnya kita dapat sebuah kamar yang dekat pantai dengan harga Rp. 120.000,- semalam. Kamar sudah didapat, sekarang waktunya untuk melepas semua perlengkapan riding dan menepi ke pinggir pantai untuk mengabadikan momen-momen menjelang matahari tenggelam di Pantai Santolo tapi sayangnya momen tersebut tertutup oleh awan yang tidak mau pergi-pergi hingga matahari benar-benar tenggelam di peraduannya :nangis:

Pemandangan di depan Penginapan Keramaian Pantai Santolo di Sore Hari

Sunset yang terhalang awan di Pantai Santolo

Setelah gagal mendapatkan momen sunset, akhirnya dengan berat hati sayapun mulai mandi karena badan rasanya sudah lengket dengan keringat siang tadi. Disini sayapun mendapatkan kesialan lagi, ketika sedang enak-enaknya mandi tiba-tiba air dari kran lama-lama mengecil dan berhenti (ternyata berhentinya air di kamar kita bertepatan dengan banyaknya pengunjung pantai Santolo yang juga ikutan mandi dikamar-kamar disebelah kita, dan ini mengakibatkan kita tidak kebagian air :( ). Arrrrghh…. :kebo: :kebo: dimana saya pada waktu itu sedang keramas dan belum sempat ngebilas shampo yang masih nempel dengan mesra dirambut, dugh gusti lengkap sudah penderitaan hari ini :nangis2: Agenda kita malam ini tidak banyak, yaitu makan malam sembari membicarakan agenda besok yang mana kita akan langsung pulang baru kemudian terus tidur :D

Makan Malam yang Mewah di traktir Tarmizi Tidur Malam

Hari itu, Sabtu tanggal 30/03/2013 tepat jam 07:30 akhirnya saya terbangun dari tidur nyenyak di bale-bale yang tepat berada di depan kamar yang kita sewa (Ini ngapain sewa kamar ya, kalau ternyata kita tidurnya tetap diluar juga :pusing: ) Setelah cuci muka akhirnya kita putuskan untuk menghabiskan pagi ini dengan bermain-main air di Pantai Santolo sembari foto-foto dengan suasana pantai :)

Suasana Pantai Santolo di Pagi Hari Keramaian Pengunjung Pantai di Pagi Hari

Pergi Meninggalkan Kerumunan Pengunjung My Footstep

Ombak Pantai Santolo Mama aku dilaut loh

Buset… ternyata ombak disini besar juga meskipun kita cuma bermain di pinggiran pantai saja, ini menyebabkan kita tidak berlama-lama bermain-main air di pantai. Setelah puas foto-foto dan bermain air, akhirnya kitapun segera berkemas untuk kembali ke Jakarta. Dan akhirnya tepat jam 09:30 kitapun meninggalkan penginapan, sedangkan untuk rute perjalanan pulang kita memutuskan untuk tetap mengikuti rute berangkat kita kemarin. Dan akhirnya sayapun sampai dengan selamat di kos tepat jam 23:00 malam, fyuhh benar-benar capek tapi saya tetap merasa puas perjalanan kali ini :) . Untuk teman-teman yang penasaran dengan penginapan yang kita tempati, dibawah ini merupakan view dan kondisi penginapan kita waktu di Pantai Santolo kemarin :)

Pemandangan dilihat dari Teras Teras Depan Penginapan

Suasana di Dalam Kamar

Terima kasih kepada Tuhan YME yang sudah melindungi perjalanan kita bertiga hingga selamat sampai dirumah masing-masing, sedangkan buat teman-teman jalan jauh; ayo nih kapan kita kemana ? :senyum:

Referensi:

  1. Ekspedisi Menyingkap Keindahan 8 Pantai Tersembuyi di Garut

  2. Pantai Ranca Buaya

  3. Pantai Santolo

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: