Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Puncak Cikuray Yang Tertunda

| Comments

Mount Cikuray (Doc. Indonesian Mountains)

Pendakian ke Gunung Cikuray sabtu kemarin (08/03/2013) merupakan pendakian pertama yang saya lakukan, dan sebenarnya kepingin naik gunung sudah sejak tahun 2010 dulu tapi baru bisa terealisasi kemarin (akhir tahun kemarin juga gagal ketika ingin ke Gede Pangrango karena tidak ada yang mau daftar langsung ke Cibodas :( ) :D Rencana pendakian ini sebenarnya sudah direncakan sejak jauh-jauh hari, berawal dari obrolan antara saya, Jimmy dan mas Dhamar tentang rencana cuti Jimmy yang mau naik ke Gunung Semeru :D Karena mas Dhamar ternyata juga tertarik ikutan naik, jadinya kita ngobrol-ngobrol dan akhirnya terpilihlah Gunung Cikuray sebagai ajang latihan sebelum ke Semeru dan kita sepakat bahwa kita akan berangkat dari Jakarta hari Jum'at (08/03/2013) malam sekitar jam 22:00 dan titik kumpulnya adalah di terminal kampung rambutan.

Seminggu sebelum keberangkatan, ada beberapa teman yang ingin ikutan naik juga yaitu Doni dan Dadang dan total personel kita berjumlah 6 orang. Kebetulan sekali, karena Doni juga tinggal di garut dan bersedia dijadikan sebagai tuan rumah setelah perjalanan dan pendakian. Setelah kita mengetahui berapa

Tanggal sudah disepakatin, referensi tentang Gunung Cikuray dari beberapa blog rekan-rekan pendaki yang lain juga sudah kita baca-baca. Dan beberapa poin penting yang bisa kita rangkum tentang Gunung Cikuray waktu itu adalah :

  1. Minim air.
  2. Jalur pendakian yang menanjak terus dan tanpa bonus.
  3. Sewa pick-up atau ojek untuk mengantar kita sampai di pemancar
  4. Pendakian dimulai dari pos pemancar

Setelah mengetahui perkiraan tentang kondisi di Gunung Cikuray, akhirnya kita mulai menyusun itinerary yang kurang lebih seperti berikut : Jum'at 08/03/2013

  1. 17:00 Doni pulang duluan ke garut untuk mengontak angkot yang kita pesen
  2. 21:00 Berangkat dari pangkalan jati ke kampung rambutan
  3. 23:00 Berangkat ke garut

Sabtu 09/03/2013

  1. 04:00 Sampai garut kemudian meluncur ke kediaman Doni buat istirahat dan repacking
  2. 07:00 Berangkat ke pemancar
  3. 09:00 Mulai pendakian
  4. 16:00 Ngecamp di puncak bayangan

Minggu 10/03/2013

  1. 09:00 Packing tenda dan mulai turun
  2. 15:00 Sampai di pemancar dan pulang
  3. 17:00 Mandi dan istirahat di rumah Doni
  4. 19:00 Kembali ke Jakarta dari terminal Guntur

Senin 11/03/2013

  1. 02:00 Sampai kampung rambutan dan pulang ke kos masing2

Ok semua rencana sudah disusun dengan rapi, dan tepat hari Jum'at jam 20:45 kita bertiga (saya, Jimmy dan Dadang) memulai perjalanan ini dari kantor PT. Artivisi Intermedia yang berlokasi di pangkalan jati 2. Sekedar info Doni sudah pulang duluan ke Garut, sedangkan Luluk dan Dhamar akan langsung menuju ke terminal kampung rambutan dari daerah Kalibata.

Semua sudah siap Yuk Berangkat

Perjalanan dari pangkalan jati ke kampung rambutan kita tempuh dengan menggunakan angkot 22 jurusan kalimalang - pondok gede dengan ongkos @2500 dan diteruskan oleh angkot KR jurusan pondok gede - kampung rambutan dengan ongkos @4000. Perjalanan dari pangkalan jati - kampung rambutan lumayan tersendat Jum'at malam itu dikarenakan bertepatan dengan long weekend, dan akhirnya kita bertiga sampai dengan selamat di Terminal Kampung Rambutan tepat jam 22:00. Sembari kita menunggu Dhamar dan Luluk merapat, akhirnya kita habiskan waktu dengan minum kopi di salah satu penjual kopi di terminal Kampung Rambutan :)

Akhirnya tepat jam 23:15 Dhamar dan Luluk sampai juga di terminal kampung rambutan menemui kita bertiga, setelah berdiskusi dan mencari bis sebentar akhirnya kita mulai masuk ke dalam terminal dengan membayar biaya restribusi sebesar @1000. Dan ternyata kita dapat bis Karunia Bakti terakhir yang berangkat menuju Garut, di dalam bis ini ternyata kita mendapat kejutan bahwa ternyata hampir 90% penumpangnya adalah pendaki juga (terlihat dari banyaknya penumpang yang membawa tas carrier besar-besar). Duduk-duduk sebentar didalam bis kemudian tepat jam 00:10 bis yang kita tumpangi mulai meninggalkan terminal kampung rambutan menuju garut yang waktu perjalanan saya gunakan untuk istirahat sekedar untuk menyimpan tenaga :)

Tepat jam 04:15 akhirnya bis Karunia Bakti yang kita tumpangi sudah sampai di terminal Guntur - Garut, dan akhirnya kita pun turun bersama kawan-kawan seperjalanan yang ternyata sebagian besar dari mereka ingin mendaki ke Gunung Papandayan :)

Setelah turun dari bis, kita berlima istirahat dulu di terminal Guntur sembari minum kopi dan teh hangat. Sedangkan Dhamar dan Luluk menunaikan kewajibannya yaitu Sholat Subuh di terminal Guntur. Setelah puas beristirahat, akhirnya kita meluncur ke rumah Doni yang berlokasi di Ciledug - Garut dengan menggunakan angkot 02 dengan tujuan ke Dinas Pariwisata :)

Istirahat di Terminal Guntur Garut

Akhirnya jam 05:30 kita sampai di rumah Doni dengan selamat, disini kegiatan yang kita lakukan adalah packing ulang tas masing-masing untuk pembagian beban kemudian makan-makan dan menunggu angkot yang akan mengantar kita menuju ke pemancar tempat dimana titik awal pendakian ke gunung Cikuray. Tepat jam 07:45 akhirnya kita mulai perjalanan dari rumah Doni yang berada di daerah Ciledug menuju ke Pemancar dengan ongkos PP adalah @60.000 yang dibayar waktu kita turun nanti. Di tengah perjalanan menembus kebun teh, ternyata kita harus ijin dahulu ke pak Satpam penjaga kebun teh dengan meninggalkan KTP beserta biaya untuk 1 orang Rp. 3.000,- dan karena kita naik angkot kita juga harus bayar biaya angkot sebesar Rp. 5.000,-

Portal di Kebun Teh Menuju Pemancar

Harus Daftar di Pat Satpam

Perjalanan setelah portal kebun teh sungguh sangat-sangat indah, di kanan kiri jalan kita bisa melihat bukit-bukit yang penuh dengan pohon teh. Meskipun jalan yang kita lewati tidak begitu bagus, tapi tidak mengurangi semangat kita semua :)

Pemandangan Kebun Teh

Kondisi Jalan Menuju Pemancar

Setelah beberapa jam perjalanan, di tanjakan terakhir sebelum pemancar angkot kita ternyata sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan dan kita diturunkan di bawah pemancar :( dan akhirnya dengan terpaksa kita berjalan kaki untuk menuju ke pemancar. Karena berdasarkan informasi yang kita baca sebaiknya sebelum naik ke Cikuray kaki kita di olesin dengan counterpain biar tidak begitu pegal waktu mendaki, akhirnya ramai-ramai kita bergantian mengoleskan counterpain baik ke kaki dan punggung sekalian bernarsis ria dahulu :D

Pemandangan Bukit di bawah Pemancar

Narsis Ria

Puas berfoto-foto akhirnya perjuangan pertama kita pun dimulai, dihadapan kita sudah terbentang jalan tembus untuk naik ke pemancar dengan melewati kebun teh (tidak lewat jalan aspal) dengan kemiringan yang cukup untuk menguras tenaga. Ternyata benar kawan-kawan, baru beberapa langkah saja nafas saya sudah ngos-ngosan :D Dan alhasil sampai di jalanan aspal diatas berhasil dicapai dengan cukup menguras tenaga dan akhirnya saya pun minta istirahat sebentar :(

Perjuangan Pertama Menuju Pemancar

Ayo Semangat, Pemancar Sudah di Dekat

Setelah bersusah-payah untuk mencapai pemancar, akhirnya jam 10:15 sampai jugalah kita di pemancar yang kata kawan-kawan pendaki inilah titik awal pendakian di gunung Cikuray. Di pemancar ini kita juga melakukan registrasi lagi dengan biaya se ikhlasnya saja (disini kita bayar sebesar Rp. 50.000,-. Kata abang penunggu di pos pendakian biaya seikhlasnya ini nanti akan digunakan untuk membangun fasilitas MCK bagi para pendaki yang lain), dan kita juga diberitahu oleh abang penunggu pos pendakian bahwa jika nanti kita tersesat ikuti saja jalur air karena jika ada kejadian pendaki hilang tim SAR akan mulai mencari di jalur air dahulu baru ke titik yang lain. Disini kita beristirahat cukup lama, sekalian bernarsis ria lagi :D

Pos Pendakian Gunung Cikuray

Pemandangan di Pemancar

Puas beristirahat akhirnya tepat jam 11:05 kita melanjutkan perjalanan untuk benar-benar mendaki Gunung Cikuray, dan jalur awal yang kita hadapi adalah seperti gambar dibawah ini dan akan menanjak terus tanpa bonus sampai di puncaknya :D

Jalur Awal Pendakian

Dan benar saudara-saudara, Gunung Cikuray memang tanpa ampun. Baru diawal saja sudah benar-benar menguras tenaga dan untungnya saya ditolong oleh sebuah tongkat sakti yang berfungsi untuk membagi beban agar semuanya tidak bertumpu di lutut saya yang belum pernah olahraga sama sekali. Setelah melewati tanjakan pertama, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat lagi maklum saya merupakan pendaki pemula :D Kita beristirahat bersama beberapa pendaki lain yang sudah datang duluan dan mereka sedang menyiapkan makan siang, setelah betegur sapa dan bernarsis ria lagi akhirnya perjalanan kita lanjutkan :)

Pendakian Dibuka dengan Jalur Menanjak

Dibantu Tongkat Sakti

Mulai Masuk Hutan

Belum mencapai pos 1, cuaca sudah mulai menunjukkan gejala-gejala akan turun hujan dan kabut juga sudah mulai turun hingga menghalangi pandangan kita. Disebuah tempat yang agak lapang setelah masuk hutan, akhirnya kita disini memutuskan untuk istirahat lagi sekedar untuk menggunakan jas hujan yang sudah dipersiapkan kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke pos 1.

Cuaca Berkabut

Pakai Jas Hujan Dulu

Perjalanan menuju ke pos 1 kita tempuh kurang lebih selama 1 jam perjalanan dari pemancar (karena kita siput banget naiknya :D) dengan cuaca gerimis, dan kita sampai di pos 1 ini kurang lebih jam 12:10. Pada pos 1 ini kita menemukan air yang berasal dari pipa yang dijebol dan letaknya ada disebelah kanan jalur pendakian kalau kita naik, dan disini Dadang bertugas untuk memenuhi botol air yang sudah kosong sekedar untuk jaga-jaga supaya kita tidak kehabisan air diatas nanti.

Sampai di Pos 1

Tanjakan di Pos 1

Tepat jam 12:30 kita meninggalkan pos 1 dan berjalan menuju ke pos 2, dalam perjalan kali ini cuaca juga semakin buruk dengan hujan yang turun makin deras. Perjalanan dari pos 1 menuju ke pos 2 kalau tidak salah memakan waktu 1 jam. Tapi kita tidak beristirahat di pos 2 ini, kita beristirahat tepat dibawah pos 2, karena disini juga kita menemukan sebuah air yang berasal dari pipa yang dijebol (sama seperti di pos 1 dibawah). Dan disini kita juga mengisi perbekalan air di botol yang sudah kosong, kebanyakan botol yang kita isi adalah botol-botol yang kita bawa diluar bukan yang didalam tas.

Dadang Ambil Air

Melanjutkan Perjalanan ke Pos 3

Perjalanan dari pos 2 menuju ke pos 3 benar-benar merupakan sebuah ujian yang berat kalau menurut saya, karena jarak antara pos 2 dan pos 3 cukup jauh juga dan jalur juga makin terjal. Di tengah cuaca hujan dan dengan fisik yang mulai capek, akhirnya kita memutuskan untuk berhenti sebentar di tengah perjalanan menuju ke pos 3 untuk mengisi perut yang sudah lapar. Ketakutan utama saya adalah, jika kita paksakan terus berjalan dengan baju yang sudah basah dan dingin plus perut yang sudah keroncongan nantinya kita akan masuk angin. Dan jika sudah masuk angin, wah bisa bahaya :( Dan akhirnya semua team setuju untuk istirahat makan dahulu. Dengan tangan dan lutut yang gemetar karena dingin, akhirnya kita makan juga di tengah jalur pendakian antara pos 2 dan 3 dengan lauk tempe mendoan dan krupuk bekal yang dibawa Doni dari rumah pagi tadi :D

Perjalanan menuju ke pos 3 ini benar-benar perjalanan yang sangat cetar membahana, karena tidak sampai-sampai :( Disini saya hampir putus asa, kapan kita sampai di pos 3 dan kapan bisa sampai puncak ? Dengan jalur yang makin ekstrim akhirnya sampai jugalah kita di pos 3 tepat jam 16:15 :) dan ternyata di pos 3 ini sudah berdiri beberapa tenda milik pendaki lain. Dan disini, kita pun ikut berteduh dan untungnya kita diberi secangkir kopi hangat dari abang pendaki yang buka camp di pos 3 ini (makasih ya bang, kopinya benar-benar menaikkan semangat lagi :) )

Karena fisik sudah mulai payah, akhirnya di pos 3 ini team dipecah jadi 2 yaitu team pertama yang terdiri dari Jimmy, Dadang dan Luluk berangkat dahulu menuju ke puncak bayangan untuk mendirikan tenda. Sedangkan team kedua yaitu saya, Doni dan Dhamar menyusul belakangan. Karena tenda yang bawa saya dan Dhamar, akhirnya saya pun bertukar tas dengan Dadang dan perjalanan pun dilanjutkan. Tepat jam 16:30, akhirnya saya, Doni dan Dhamar berangkat menyusul team pertama yang sudah jalan duluan menuju ke pos bayangan. Perjalanan menuju ke pos 4 ini juga tidak kalah ekstrimnya, cuma jaraknya tidak sejauh dari pos 2 ke pos 3. Pada perjalanan ini saya juga sempat merasa takut dan putus asa, ditengah cuaca yang sudah mulai gelap, teriakan saya juga ternyata tidak berbalas dari team pertama. Anggapan saya waktu itu adalah, kita tertinggal jauh dari team pertama karena suara kita tidak terdengar :( Tidak berapa lama, akhirnya kita sampai juga di pos 4 tepat jam 17:30 dan cuaca sudah mulai gelap. Dan di pos 4 ini kita ditungguin oleh Jimmy, Dadang dan Luluk, team pertama menunggu kita karena ternyata senter dibawa oleh team pertama semua dan kita tidak ada yang membawa senter. Setelah menyerahkan 1 buah senter, akhirnya team pertama melanjutkan perjalanan menuju ke puncak bayangan.

Suasana Perjalanan ke Pos 4

Suasana Perjalanan ke Pos 4a

Di pos 4 inilah semangat saya mulai nge-drop, karena kata pendaki yang nge-camp di pos 3 puncak bayangan cuma 1 pos lagi dan ternyata setelah kita naik bukannya puncak bayangan yang kita dapatin melainkan pos 4 yang tempatnya tidak bisa untuk membuka tenda selain itu cuaca masih hujan dan sudah mulai gelap :(. Di pos ini jugalah Dhamar sepertinya sudah tidak sanggup lagi untuk naik, dan ingin istarahat lebih lama di pos 4 ini.

Ditengah kebingungan kita, akhirnya dibelakang kita ada rombongan pendaki lain yang cukup banyak. Setelah berdiskusi tentang berapa pos lagi untuk sampai ke puncak dan segala macam, akhirnya kita ketahui kecil kemungkinan besar kita bisa nge-camp di puncak bayangan karena berdasarkan info waktu pendaftaran di pemancar tadi kurang lebih ada sekitar 120'an pendaki yang naik pada hari ini dan jika semua pendaki turun hari minggu maka akan dipastikan kita tidak bakalan bisa buka tenda diatas. Dan kemungkinan yang masuk akal adalah di pos 5 yang tempatnya cukup luas dibanding di pos 6, 7 dan 8 (puncak) untuk menampung beberapa tenda.

Karena cuaca sudah mulai gelap, akhirnya kita bertiga memutuskan untuk gabung di rombongan ini hanya agar supaya kita bisa mencari team pertama yang bertugas untuk membuka tenda. Tepat jam 19:00 akhirnya kita dan rombongan baru ini mulai melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Pendakian malam hari baru kali ini saya rasakan, dan hm.. cukup asyik juga sih karena kita tidak langsung tahu bagaimana terjalnya jalur yang akan dilewatin. Perjalanan 1 jam tidak begitu terasa ketika dilalui jika malam hari, dan tiba-tiba saja kita sudah sampai di pos 5 dan tepat sebelum pos 5 team pertama (Dadang, Jimmy dan Luluk) sudah berdiri menunggu kedatangan kita. Dan akhirnya kita bertiga (saya, Doni dan Dhamar) sampai dengan selamat di pos 5 tepat jam 20:00 dan untungnya team pertama juga sudah mendirikan tenda disitu meskipun dengan kondisi tanah yang miring :D :) Berdasarkan info dari Jimmy yang bertanya ke pendaki lain yang sudah duluan nge-camp di pos 5, di pos 6,7 dan 8 sudah tidak ada tempat lagi untuk ngebuka tenda.

Setelah ganti baju yang basah kuyup, akhirnya kita mulai buka bekal dan bikin mie dan kopi untuk makan malam dan menghangatkan badan. Penderitaan kita ternyata belum selesai, ternyata jaket yang saya bawa semuanya basah karena hujan. Sedangkan Doni semua bajunya basah kuyup, dan Jimmy sleeping bag-nya yang jadi korban. Untungnya masih ada 1 sleeping bag saya yang tidak basah karena saya bungkus dengan tas kresek sebelum dimasukkan ke dalam carrier. Tepat jam 21:00 akhirnya kita semua masuk ke dalam tenda masing-masing untuk tidur, dan rencana untuk besok adalah langsung turun karena kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian sampai puncak :(

Hari minggu tepat jam 07:00 akhirnya kita terbangun karena suasana diluar sudah terang benderang, dan kegiatan kita hari ini adalah masak pagi kemudian makan dan terus turun untuk kembali ke Jakarta :)

Suasana Pagi dari Dalam Tenda

Pos 5

Kegiatan Pagi Masak Makan Pagi

Setelah selesai makan pagi, akhirnya kita mulai berkemas-kemas untuk turun. Sedangkan semua sampah yang kita hasilkan kita kumpulkan untuk kemudian dibakar, dan tepat jam 10:45 kita mulai perjalanan turun. Perjalanan turun ternyata lebih cepat dari pada naik, tidak begitu lama kita sudah sampai di pos 4 dan tidak begitu lama juga kita sampai di pos 3. Cuaca mulai berubah lagi sejak kita di pos 3, hujan perlahan-lahan mulai turun membahasahi bumi. Tapi untungnya tidak terlalu deras seperti kemarin, akibat dari hujan ini adalah jalanan jadi semakin licin dan ini mengakibatkan saya bermain perusutan :D

Perjalanan turun ternyata tidak semudah yang dibayangkan, cukup menguras tenaga juga terutama lutut. Lutut saya sering gemetaran waktu turun, dan untungnya dengan bantuan tongkat sakti akhirnya kitapun sampai di pemancar dengan selamat tepat jam 15:30 sedangkan Jimmy dan Dadang sudah sampai pemancar jam 15:00 untuk memberitahu angkot yang sudah kita sewa agar menunggu rombongan yang lain :)

Akhirnya tepat jam 16:00 semua rombongan kita berhasil berkumpul didalam angkot yang akan membawa kita pulang menuju ke rumah Doni yang berada di Ciledug, dan kurang lebih jam 17:30 kitapun sampai dengan selamat di rumah Doni dengan kondisi badan yang super capek, disini akhirnya kita pun mandi dan ganti baju sembari bersantai-santai menikmati teh, kopi dan makanan yang sudah disediakan oleh keluarga Doni (makasih banyak loh a, jangan kapok terima kita lagi :D ) Setelah berdiskusi kapan kita mau balik ke Jakarta, akhirnya diputuskan kita kembali ke Jakarta hari Senin saja jam 03:30 pagi. Untuk sementara waktu kita istirahat disini dulu sembari memanggil tukang pijet untuk memijat Dhamar dan Luluk yang pegal-pegal, sedangkan saya sendiri cukup dipijat-pijat dengan tangan sendiri plus tambahan counterpain :D

Tepat jam 03:30 akhirnya kita bangun, dan kemudian oleh keluarga Doni kita diantarkan menuju ke terminal Guntur dan di depan terminal sudah menunggu bis prima jasa arah tujuan Garut - Lebak Bulus. Setelah membayar karcis sebesar @35.000,- akhirnya kita pun terlelap di alam mimpi dan sampai jakarta jam 08:30. Karena tidak bisa langsung masuk kantor, akhirnya saya sms ke pihak kantor kalau hari ini saya masuk agak siang. Sampai di Jakarta kitapun turun di Pasar Rebo dan sebelum berpisah kita makan dahulu di waung di daerah Pasar Rebo, setelah makan pagi akhirnya kitapun berpencar menuju ke kos masing-masing. Dhamar dan Luluk menuju kalibata, sedangkan saya, Dadang dan Jimmy menuju ke pangkalan jati dengan menggunakan taksi. Tepat jam 10:00 akhirya kita sampai di depan kantor PT. Artivisi Intermedia dengan membayar ongkos taksi sebesar Rp. 40.000,-

Setelah mandi dan ganti baju kantor, akhirnya saya pun kembali bekerja dan datang di kantor tepat jam 11:00 siang dengan kondisi kaki yang gemetaran :D Fyuuuh… perjalanan yang benar-benar menakjubkan tanpa ada kekurangan satu apapun dari semua personel yang ikut pendakian :) Ucapan terima kasih dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sudah menjaga kita semua dalam pendakian ini dan Gunung Cikuray juga sudah memberikan beberapa pelajaran yang berharga bagi saya yaitu :

  1. Persiapan fisik itu perlu sebelum melakukan pendakian.
  2. Untuk jaga-jaga, sebaiknya baju atau apapun yang ingin dipakai dibungkus oleh tas kresek
  3. Informasi tentang pos-pos yang harus dilewati dan berapa jam jarak tiap pos harus benar-benar di dapatkan. Karena kejadian kemarin kita tidak tahu ada berapa pos lagi untuk sampai ke puncak :(

Dan rincian ongkos perjalanan yang kita keluarkan adalah selama perjalanan kurang lebih sebagai berikut : Rincian Biaya

Bisa dikatakan pendakian pertama ini gagal karena kita tidak sampai ke puncak Cikuray, tapi tidak apa-apa :D Sembari mengutip kata-kata dari forum OANC di Kaskus “Puncak itu bonus, kembali dengan selamat sampai rumah itu tujuan utama-nya” :)

Salam rimba guys, dan mohon koreksi dari para sesepuh alam rimba tentang perjalanan pertama kita kali ini :)

Link yang terkait :

  1. Album Foto

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: