Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Perjalanan Menyusuri Hidden Paradise Sawarna Banten

| Comments

Foto Dulu dengan Background Tanjung Layar

Bagi saya touring kali ini adalah touring yang tidak disangka-sangka, apalagi sampai ke Sawarna karena persiapan yang saya lakukan juga sangat-sangat singkat :D. Saya sendiri tahu Sawarna dari salah satu thread di kaskus yang akhir bulan kemarin sempat menjadi Hot Thread (maaf lupa link threadnya), dan sayang-nya ketika saya mengajak teman kantor untuk kesana; semua pada bilang “Gila lu, jauh coy kalau kesana naek motor” :( Akhirnya niatan untuk ke Sawarna musnah sudah, karena tidak ada teman dan saya sendiri belum pernah melakukan perjalanan jauh sendirian, jadi klop deh untuk menggagalkan niatan saya untuk riding ke Sawarna :D

Kalau tidak salah ingat, pada kamis malam (tanggal 27/12/2012) saya membaca sebuah postingan @imam_aki di groups Kawasaki Athelete 125 yang mengajak untuk touring ke Sawarna dari sabtu malam sampai hari selasa dan akan menghabiskan malam tahun baru di Sawarna. Setelah membaca postingan tersebut, secara reflek saya mengajukan diri untuk ikut riding ke Sawarna sedangkan detail siapa saja yang mau ikut dan apa saja yang akan dilakukan disana akan dibicarakan pada hari jum'at malam sekalian kopdar di parkiran IRTI Monas nanti.

Setelah kopdar bukan-nya tenang hati ini, karena ternyata yang benar-benar bisa ikut cuma tiga orang saja yaitu saya, @imam_aki (Imam) dan @ignico (Ico) saja dan diantara kita bertiga belum ada yang pernah ke Sawarna baik itu naik mobil maupun riding :( Dan dari informasi yang kita dapatkan dari beberapa rekan yang pernah melewati jalur ke Sawarna mengatakan jalurnya cukup ekstrim dengan tanjakan dan belokan yang tajam dan curam, selain itu ada beberapa bagian jalan yang berlubang disana-sini. Dan yang paling meresahkan adalah peringatan dari beberapa rekan yang mengatakan jangan riding malam-malam, “BERBAHAYA”. Wooah.. apakah se-ekstrim itukah ? Karena diantara kita belum pernah ada yang kesana, akhirnya saya mencoba minta bantuan ke Google Maps dan akhirnya muncul-lah rute rekomendasi Google yaitu Jakarta > Depok > Bogor Utara 2 > Tajur > Ciawi > Taman Sari > Cijeruk > Parungkuda > Cikidang > Pelabuhan Ratu > Cisolok > Sawarna seperti berikut ini :

Rute Google Map Jakarta - Sawarna

Hati saya agak tenang setelah mengetahui ada rekan dari Groups Nusantaride yang ternyata akan berangkat ke Sawarna juga, dan sekalian saya juga menanyakan bagaimana kondisi jalanan yang akan saya lewati dengan mengikuti panduan dari Google Maps diatas. Sebuah reply dari om Jendral B-cop Zeroseventyseven cukup membuat saya gembira dengan mengatakan bahwa jalur yang akan saya lewati termasuk jalur utama yang biasa dilewati oleh teman-teman :)

Akhirnya sesuai kesepakatan awal, kita bertiga berkumpul Ardvark Garage tepat jam 21:00 dan akan mulai riding jam 02:00. Rencana tetaplah rencana, karena sebab dan akibat bermain PES akhir-nya kita mulai start riding jam 02:30 :D . Ritual yang kita lakukan sebelum berangkat adalah yang pasti berdoa dahulu agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan kali ini (karena kita cuma mengandalkan GPS dan CPS (Congor Positioning System) :D), setelah berdoa tidak lupa kita photo-photo dulu :D

Mini Touring Cuma Bertiga (Saya, Imam dan Ico)

Tidak lupa sebelum berangkat, photo dulu odometer-nya :)

Angka Odometer Sebelum Berangkat

Perjalanan kita diawali dengan mampir dulu ke SPBU 34-13414 di daerah Cipinang Besar untuk mengisi penuh persediaan premium si “Geny”, di SPBU ini “Geny” cuma minum premium sebanyak Rp. 8.000,- karena pada hari sebelum-nya “Geny” sudah diisi premium penuh. Sedangkan @imam_aki dan @ignico mengisi pertamax untuk masing-masing tunggangan-nya :) Setelah selesai memenuhi isi tangki, perjalanan kita lanjutkan menuju ke Sawarna dengan santai karena kita tidak ada target waktu harus sampai jam berapa.

Rest Point pertama kami adalah sebuah POM Bensin di daerah Situ Ciletuh (kalau berdasarkan Google Maps, tapi ketika kita tanya daerah mana ini pada petugas di POM Bensin jawabnya adalah daerah Cigombong) tepatnya di jalan Mayor Jendral HE Sukma. Pada Rest Point pertama ini, kita gunakan untuk melumasi rantai dengan chain lube sekalian mengganjal perut dengan roti, sebatang rokok, mengisi bensin dan tidak lupa kita photo-photo lagi :D

Rest Point 1 POM Bensin Cigombong

Karena perjalanan kali ini adalah perjalanan pertama dengan hanya dituntun oleh Google Maps, akhir-nya ternyata kita kesasar :D Yang awalnya kita harusnya lewat Cikidang, karena kita tidak tahu akhirnya tujuan kita ganti yaitu yang penting sampai ke Pelabuhan Ratu dulu :D Dan kita tersadar kalau kita kesasar yaitu ketika ada sebuah pertigaan kalau kita terus akan menuju ke Sukabumi atau belok kanan menuju ke Pelabuhan Ratu lewat Cikembar. Akhir-nya kita putuskan untuk mengikuti bis yang menuju ke Pelabuhan Ratu yaitu masuk ke jalur Pelabuhan Ratu via Cikembar :D Dan inilah perbandingan rute yang disarankan oleh Google Maps dan rute yang kita lewati :D

Rute Kesasar

Setelah memilih jalur Pelabuhan Ratu via Cikembar kita disuguhi jalanan yang sangat banyak ditemui lubang-lubang yang menganga, alhasil kita beberapa kali sempat merasakan “nikmat”-nya masuk ke lubang-lubang yang tersebar secara acak di sepanjang jalan ini. Selain jalanan yang berlubang dan mulai banyak tikungan, kita juga merasakan bagaimana riding ditemani oleh kabut yang cukup tebal hingga menyebabkan kaca helm saya berembun dan terpaksa riding tanpa kaca pelindung :D Ketika sedang menikmati jalanan yang sudah mulai mulus, kita menemukan spot bagus untuk photo-photo. Dan akhirnya kita memutuskan untuk istirahat sebentar di daerah yang tidak kita kenal ini sekalian menghabiskan sebatang rokok dan mengecek kondisi kendaraan :)

Pemandangan Bukit Sebelum Pelabuhan Ratu Istirahat Dulu Sembari Cek Kondisi Motor

Motor Dengan Background Bukit

Puas menikmati indahnya bukit, perjalanan akhirnya kita lanjutkan menuju ke Pelabuhan Ratu dan kita memutuskan untuk mengisi bensin di SPBU 34-43304 yang terletak di Jalan Siliwangi, Pelabuhan Ratu sekaligus menanyakan ke pak Satpam yang baik hati kira-kira butuh waktu berapa lama lagi untuk menuju ke Sawarna dan kata pak Satpam kurang lebih masih 1.5 jam perjalanan lagi dari lokasi SPBU ini :)

SPBU 34-43304 Pelabuhan Ratu

Karena perut kita sudah mulai kelaparan, akhir-nya kita putuskan untuk cari warung nasi yang berada di dekat pantai saja. Dan akhirnya sebuah warung milik Bu Yati di Pantai Citepus menjadi tempat singgah kita pagi itu karena memiliki spot yang bagus untuk photo-photo. Ketika melihat jarum jam ternyata masih jam 07:00 pagi, hm… perjalanan sejauh ini koq belum merasa capek ya ? Apa ini karena efek “rasa penasaran” saya ?? Akhirnya setelah memesan beberapa nasi goreng dan beberapa gelas kopi akhirnya kita photo-photo sekaligus istirahat yang cukup lama yaitu 1 jam :D (Sampai-sampai @imam_aki ketiduran disini :D)

Warung Bu Yati Menu Nasi Goreng

Imam Lagi Tidur Pemandangan di Depan Warung Bu Yati

Pemandangan Pantai Citepus Narsis Dulu

Setelah puas bersantai di warung Bu Yati, setelah berpamitan dengan Bu Yati akhirnya kita melanjutkan perjalan menuju ke Cisolok dan jika sesuai dengan rencana kita akan segera masuk ke Desa Sawarna :) Karena HP saya sudah mati karena kehabisan baterai, dan sinyal untuk data susah di daerah Pelabuhan Ratu yang membuat kita tidak bisa membuka Google Maps. Akhirnya kita mengikuti saran dari beberapa penduduk yang mengatakan untuk lurus saja mengikuti jalanan dan nanti akan sampai ke Desa Sawarna, jalanan sehabis Cisolok kalau tidak salah di dominasi oleh tanjakan dan jalanan yang berkelok-kelok. Cukup menggoda kita untuk melakukan aksi miring-miring, tapi karena ada beberapa bagian jalan yang berlubang, berpasir maupun terdapat luberan air, akhirnya kita cukup riding santai saja karena kita juga belum tahu medan-nya dengan baik :D

Ditengah asyik-asyiknya menikmati perjalanan yang naik turun dan berkelok-kelok, secara tidak sengaja mata saya melihat ke sebelah kiri dan waaauww.. indah-nya pemandangan yang tersaji di depan mata ini yang memaksa saya untuk membunyikan klakson berkali-kali ke @imam_aki untuk berhenti sebentar sekedar untuk melakukan photo-photo :D

Pemandangan Setelah Cisolok Kapal-kapal Nelayan

Gunung Batur (Kata seorang teteh yang kita tanya)

Puas photo-photo perjalanan kita lanjutkan lagi, cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan tidak lama kemudian hujan pun turun dengan deras-nya dan memaksa kita untuk sekali lagi mampir ke sebuah warung sekedar untuk berteduh. Karena hujan yang tidak reda-reda, akhirnya kitapun memesan kopi dan memutuskan untuk menunggu hujan reda sembari istirahat sekalian beli bensin eceran untuk memastikan bahwa kita nantinya tidak kehabisan bensin di tengah perjalanan :D

Warung Si Teteh Tempat Kita Menunggu Hujan Reda

Karena kita kurang informasi tentang Desa Sawarna, sembari menunggu hujan reda akhirnya saya mencoba menggali informasi ke si “teteh” penjaga warung kira-kira tempat wisata apa saja yang bisa kita kunjungi. Untungnya dengan baik hati, si “teteh” yang cantik memberikan beberapa daftar tempat-tempat yang harus kita kunjungi antara lain :

  1. Gua Lauk

  2. Gua Lalay

  3. Tanjung Layar

  4. 1000 Tangga

  5. Makam Si Kabayan

Ok “teteh” makasih buat daftar-nya yah. Dan oh iya, kalau ke Sawarna kemana ya ? Jawab si “teteh” “Kalau ke Sawarna, terus saja ikutin jalan ini jangan belok-belok”. “Apa masih jauh ?” Jawab si “teteh” “jauuuh, 2 jam lagi kalau ke Sawarna”. “Oh makasih ya teh” :)

Setelah berdiskusi, akhirnya kita lanjutkan perjalan lagi menuju ke Sawarna dengan mengantongi beberapa tempat wisata yang akan kita kunjungi nantinya :) Jalanan yang cukup mulus dengan kombinasi tanjakan dan turunan serta tikungan-tikungan yang asyik buat mereng-mereng masih menghiasi perjalanan kita melewati Jalan Cilograng - Darmasari ini, hingga pada suatu turunan kita disuguhi pemandangan yang begitu indah. Karena indah-nya, @imam_aki sampai hampir meneteskan air mata loh :D karena perjalanan jauh ini ternyata tidak sia-sia. Pemandangan yang kita lihat didepan cukup untuk menghilangkan rasa kantuk dan capek yang kita rasakan dalam perjalanan ini, bagaimana tidak kita bisa melihat laut sampai di bibir pantai dari atas bukit seakan-akan pantai-nya sangat dekat dengan kita. Tapi sayangnya karena kita kurang koordinasi jadi-nya pemandangan yang kita lihat tidak sempat untuk diabadikan :( dan kita sepakat jika nanti pulang, kita harus mampir lagi kesini untuk mengambil beberapa photo :)

Tidak lama kemudian, akhirnya kita melihat pintu masuk ke Desa Sawarna yang pernah saya lihat dari beberapa Ride Report rekan-rekan bikers yang pernah kesini. Dan tidak lupa, akhirnya kita pun tidak lupa untuk photo-photo narsis dulu :D

Pintu Masuk Desa Sawarna

Tiba-tiba ditengah perjalanan kita menemukan spot bagus lagi, dan akhirnya kita berhenti sebentar untuk mengambil beberapa photo lagi. Tapi sayang-nya ketika kita berdua berhenti, si @ignico ternyata kaget yang menyebabkan motor-nya melaju melewati kita berdua. Dan pemandangan yang kita dapatkan kali ini tidak kalah indah-nya dan sekarang kita tidak boleh kehilangan momentum lagi seperti waktu diatas tadi :D

Pemandangan Setelah Pintu Masuk Desa Sawarna Tidak Lupa Narsis Lagi

Motor dan Ridernya

Setelah mengucapkan terima kasih kepada orang yang memphoto kita, perjalanan akhirnya dilanjutkan kembali. Tidak lama kemudian, akhirnya kita sampai ke pintu masuk Pantai Ciantir yang terkenal dengan jembatan gantung-nya. Dan di jembatan gantung ini, saya mengalami sedikit accident yaitu stang motor sempat bersenggolan dengan kawat penyangga jembatan. Hmm… hati sedikit berdesir waktu itu, takut kalau kalau sampai jatuh ke sungai beserta si “geny” :( . Dan akhir-nya kita bertiga bisa sampai dengan selamat ke penghujung sebelah dan membayar tiket masuk per orang sebesar Rp. 5.000,- (padahal di tiket-nya tertulis Rp. 3.000,- , mungkin karena kita masuk waktu musim liburan kali ya jadi harga tiket masuk-nya beda tapi gpp lah kita sudah cukup bahagia dengan perjalanan kali ini :) )

Jembatan Gantung Masuk Pantai Ciantir Tiket Masuk Pantai Ciantir

Ketika membayar tiket masuk, kita ditawari oleh penjual tiket apakah kita ingin menginap sekalian ? Dan otomatis kita jawab iya, dan setelah si abang menyibukkan diri dengan handphone-nya akhirnya kita di antar menuju ke sebuah rumah tempat kita akan menginap nanti-nya. Setelah melakukan proses negosiasi, akhirnya kita menurunkan semua tas dan memasukkan ke dalam kamar kemudian melepas sepatu dan yuuuhuuuu Pantai Ciantir kita datang :)

Ini Loh Tempat Kita Menginap Indahnya Pantai Ciantir

Mantapnya Pantai Ciantir Imam Pose di Pantai Ciantir

Ico di Pantai Ciantir Balik Yuk Cari Makan

Karena perut kita keroncongan, maka sesi bermain di Pantai Ciantir kita akhiri dahulu, dan sesi selanjutnya adalah cari tempat makan. Akhir-nya langkah kaki kita berhenti disebuah warung di luar jembatan masuk Pantai Ciantir, setelah makan kita kembali ke penginapan kemudian mandi dan selanjutnya tidur :D Kira-kira jam 17:00 saya terbangun, karena sudah tidak bisa tidur lagi akhirnya iseng-iseng bikin kopi dan merokok diluar kamar. Tidak lama kemudian @imam_aki dan @ignico pun menyusul nongkrong diluar, sedang enak-enaknya kita membicarakan pengalaman waktu berangkat tadi. Tiba-tiba datang pak Jayat pemilik penginapan yang kita tempatin. Akhirnya kita pun ngobrol-ngobrol dengan pak Jayat dan menanyakan kira-kira tempat wisata mana saja yang dapat kita kunjungi besok, dan akhirnya pak Jayat memberi beberapa daftar tujuan wisata yang bisa kita datangin selain ke Pantai Ciantir yaitu :

  1. Gua Lalay

  2. Labuan Pari

  3. Tapak si Kabayan

  4. Tanjung Layar

  5. Pantai Ciantir/Pasir Putih yang lokasinya sudah kita datangin siang tadi

Hmm… tidak jauh beda dengan daftar yang diberikan oleh si “teteh” waktu di warung kopi diatas pagi tadi nih, cuma ada beberapa yang memang tidak ada. Tahu kita kebingungan, akhirnya pak Jayat juga menawarkan bagaimana jika kita menyewa seorang guide untuk menuju ke beberapa lokasi tersebut dengan membayar Rp. 150.000,- ? Karena kita ingin meng-eksplore sendiri, akhirnya tawaran pak Jayat terpaksa kita tolak dengan halus :) Tak terasa kita ngobrol dengan pak Jayat sampai malam hingga perut kita lapar lagi, akhirnya kita pamit dengan pak Jayat untuk cari makan malam kemudian menikmati suasana malam di Pantai Ciantir sembari membahas mau kemana saja kita besok :) Setelah puas menikmati dinginnya udara malam Pantai Ciantir akhirnya kita memutuskan untuk balik ke penginapan untuk tidur dan besok kita akan mulai jalan jam 07:00 pagi.

Rencana tetaplah rencana, saya terbangun tepat jam 08:30 pagi. Woaaa… dan ternyata @imam_aki dan @ignico juga barusan bangun :D (Gagal deh jalan pagi-pagi). Karena kita bangun kesiangan, akhirnya kita sepakati untuk mulai jalan ke Gua Lalay jam 10:00 saja, setelah semua setuju kita mulai mandi secara gantian dan kemudian makan pagi :)

Setelah makan pagi, akhirnya tepat jam 10:00 pagi akhirnya kita mulai jalan ke Gua Lalay. Karena kita tidak menggunakan seorang guide lokal, petunjuk yang kita pakai adalah keluar dari jembatan masuk Pantai Ciatir terus belok kanan kemudian jalan terus nanti ada sebuah plang bertuliskan Gua Lalay kemudian belok kanan lagi. Ternyata mencari sebuah plang dengan tulisan Gua Lalay tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena selama kita jalan tidak ditemui plang dengan tulisan yang dimaksud. Untung-nya kita diselamatkan oleh orang-orang yang sedang nongkrong di sebelah gang menuju ke Gua Lalay, mereka bertanya kepada kita “Mau kemana a ?” dengan sigap saya jawab “Mau ke Gua Lalay a, ini masih terus kan ?” “Oh bukan a, kalau ke Gua Lalay masuk ke gang itu (sembari tangannya menunjuk ke sebuah gang yang sudah kita lewati). Kalau mau cepat, sewa ojek aja a. Atau sewa guide” tawar si aa. Kita jawab “makasih a, kita coba jalan sendiri dulu :)”, dan akhirnya perjalananpun kita lanjutkan dengan panduan yang kita terima dari si aa. Karena di sepanjang jalan yang kita lewati ini kita banyak bersimpangan dengan orang-orang yang sepertinya bukan penduduk lokal, akhirnya kita berasumsi bahwa mereka sepertinya sudah selesai mengunjungi Gua Lalay dan kitapun melangkah menuju tempat orang-orang yang melewati kita :)

Jalanan yang kita lewati kali ini termasuk seru, karena kita berjalan melewati pematang sawah dengan cuaca siang ini sangat cerah sekali. Kira-kira 15 menit kita berjalan, akhirnya kita sampai juga ke jembatan gantung Gua Lalay :) Kesan pertama ketika melihat jembatan gantung ini adalah, sepertinya lebih kokoh dan kuat dibanding jembatan gantung di Pantai Ciantir. Asumsi saya ternyata benar ketika kita mencoba melewati jembatan tersebut goyangan yang dihasilkan tidak begitu terasa seperti waktu di jembatan gantung Pantai Ciantir :) Setelah melewati jembatan gantung, jalan setapak yang berlumpur mendominasi jalanan yang kita lewati. Dan disini kita sempat berpikir jangan sampai hujan nih, kalau hujan jalanan yang akan dilewati bakalan lebih susah.

Pemandangan Menuju Gua Lalay Melewati Pematang Sawah

Melipir di Tepi Sungai Jembatan Gantung Gua Lalay

Jembatan Gantung Gua Lalay yang Lebih Kuat Jalanan Berlumpur ke Gua Lalay

Tidak lama kemudian, akhirnya kita sampai juga di lokasi wisata Gua Lalay. Karena senangnya, akhirnya kita langsung masuk saja ke dalam gua tanpa memperdulikan situasi sekitar dan ternyata senter yang kita bawa tidak cukup terang untuk melihat kondisi didalam gua :( . Tapi untungnya, di depan kita ada rombongan yang menyewa seorang guide dan guide tersebut membawa senter yang cukup terang untuk melakukan photo-photo didalam gua dan kitapun akhirnya ikut ke rombongan tersebut sebagai penumpang gelap :D

Gua Lalay Sebuah Jembatan di Dalam Gua Lalay

Kita Nebeng Ya a' Rombongan Wisatawan Gua Lalay

Suasana di Dalam Gua Lalay Pintu Masuk Dilihat Dari Dalam Gua

Puas menikmati indahnya Gua Lalay akhirnya kita keluar dan sampai diluar ternyata ketakutan kita supaya tidak turun hujan menjadi kenyataan :( Otomatis jalan setapak yang kita lewati tadi menjadi semakin becek dan licin, dan ini menyebabkan kita keluar dari gua dengan sangat hati-hati supaya tidak tergelincir. Setelah keluar dari gua, kita istirahat sebentar di sebuah warung yang terdapat didepan Gua Lalay dan sekalian menanyakan wisata apalagi yang bisa kita kunjungi setelah ini kepada ibu penjaga warung. Dan si Ibu mengatakan setelah dari Gua Lalay kita bisa ke Labuan Pari yang jalanan-nya melewati pematang sawah lagi :)

Istirahat Dulu Setelah Dari Gua Lalay

Perjalanan dari Gua Lalay menuju ke Labuan Pari kita lewati dengan suasana gerimis dan sesekali hujan dengan intensitas sedang. Dan ini menyebabkan kita harus berjalan dengan sangat hati-hati supaya tidak tergelincir. Ditengah perjalanan melewati pematang sawah, akhirnya kita menemukan sebuah sungai yang tidak terlalu dalam. Sampai disini keraguan kitapun muncul, ke arah mana kita harus melangkah untuk menuju ke Labuan Pari ?? Untung-nya tidak jauh di belakang kita, ada sepasang kekasih yang ingin ke Labuan Pari dan mereka menyewa 2 orang anak kecil sebagai guide-nya. Dan akhir-nya kita pun tanya-tanya juga ke 2 orang anak kecil tersebut, dan kata mereka kita harus menyebrangi sungai dihadapan kita untuk menuju ke Labuan Pari. Jalan setapak yang kita lewati setelah menyebrangi sungai juga tidak kalah mantap-nya dibandingkan dengan waktu di pematang sawah tadi, kombinasi tanjakan dan turunan yang berlumpur menjadi tantangan tersendiri untuk kita supaya tidak jatuh. Untuk menjaga keseimbangan badan, akhirnya saya dan @imam_aki mencari batang pohon untuk dijadikan sebagai tongkat penyeimbang :)

Akibat Hujan Jalanan Jadi Tambah Berlumpur Perjalanan Menuju Ke Labuan Pari

Setelah Menyebrangi Sungai Kondisi Jalan Masih Berlumpur

Kali ini kita terpaksa berjalan dengan lambat, karena memang susah untuk berjalan dengan cepat. Setelah melewati tanjakan, turunan dan sebuah tanah lapang, akhirnya kita melihat sebuah balai-balai di tengah perjalan kita dan pemandangan yang bisa kita lihat dari bale-bale ini cukup indah.

Bale-bale Pemdangan dari Bale-bale

Setelah melewati bale-bale tersebut, jalanan yang kita lalui merupakan sebuah turunan yang cukup menantang untuk dilalui. Mungkin jika tidak hujan jalanan ini biasa saja, tapi karena sekarang kita lewat dengan kondisi gerimis dan kadang-kadang turun hujan dengan intensitas yang sedang menjadikan jalanan menjadi menantang. Dan disinilah acident kecil kedua dari kita terjadi, @imam_aki akhir-nya terjatuh karena licin ketika melewati turunan ini dan si @ignico hampir saja jatuh juga :D

Imam Terjatuh

Dari titik lokasi terpeleset-nya @imam_aki, tidak jauh lagi akhirnya kita bisa melihat sebuah pantai yang kata penduduk inilah pantai Labuan Pari :) Suasana yang kita lihat di Labuan Pari ini sangat berbeda dibandingkan dengan Pantai Ciantir, disini masih sedikit berdiri warung-warung penjual makanan dan kondisinya lebih sepi dari pengunjung (mungkin karena lokasi-nya yang tidak bisa ditempuh dengan motor dan medan yang naik turun bukit cukup menantang kali ya :D).

Pantai Labuan Pari

Akhirnya disini kita puas-puasin bermain-main di pantai dan sekalian photo-photo :)

Akhirnya Berenang Juga Saya Ico Berenang

Imam Pose Dulu Si GukGuk Sedang Tidur

Hamparan Karang Tidak Lupa Mengucapkan Selamat Tinggal 2012

Setelah puas bermain-main di Labuan Pari akhirnya kita menuju ke Tanjung Layar yang terkenal dengan karang-nya yang menjulang seperti layar itu :) Untuk menuju ke Tanjung Layar dari Labuan Pari kita harus berjalan kaki melewati pinggiran pantai. Wooaw.. pengalaman berjalan di pinggiran pantai ditemani dengan batu karang memang sungguh merupakan pengalaman yang cukup asyik, yang ada di benak saya waktu itu adalah bagaimana jika tiba-tiba ombak pasang dan jalur yang kita lewatin terendam air dan kita masih di tengah-tengah perjalanan ? Hiii… ngeri :D

Menyusuri Pinggiran Pantai Eh Ketemu Sungai

Ketemu Spot Bagus Photo Lagi

Untuk mencapai Tanjung Layar, ternyata kita harus berjalan dibawah sebuah tebing (atau karang ya?) yang cukup tinggi. Sedangkan perjalanan menuju ke tebing tersebut di dominasi oleh jalanan yang berbatu dan sesekali kita temukan karang yang bentuknya seperti pagar. Setelah kita berhasil melewati sebuah tebing, maka terlihatlah sebuah karang yang bentuk-nya seperti layar dan ternyata inilah Tanjung Layar yang terkenal itu :)

Tebing yang Harus Kita Lewati Gugusan Batu Karang Seperti Pagar

Jalan Bebatuan Mendominasi Perjalanan Kita Berjalan di Bawah Tebing

Berjalan Memutari Tebing Tanjung Layar Terlihat dari Balik Tebing

Dan akhirnya setelah berjalan beberapa saat dan mencari-cari sebuah warung untuk istirahat, sampailah kita di Tanjung Layar. Dengan ditemani semangkok mie goreng dan segelas kopi hitam, akhirnya kita bisa menikmati indah-nya pantai Tanjung Layar yang kata-nya merupakan Hidden Paradise di selatan Banten ini :)

Warung Tempat Kita Nongkrong Pemandangan Tanjung Layar

Komunitas Honda CB di Tanjung Layar

Kira-kira jam 16:30 akhirnya kita balik ke penginapan untuk mandi dan istirahat sebentar, sebelum kemudian menghabiskan malam tahun baru di Tanjung Layar. Kenapa kita memilih Tanjung Layar sebagai tujuan untuk menghabiskan malam tahun baru ? Karena di Pantai Ciantir pasti ramai sekali, karena berdasarkan informasi pak Jayat, akan ada acara okestra plus pesta kembang api :) Kita jauh-jauh kesini kan cuma ingin menikmati indahnya alam pak :D bukan untuk lihat pesta kembang api :D Dan berdasarkan aplikasi My Tracks yang ter-install, inilah rute yang sudah kita tempuh pada hari ini :)

Rute dari Aplikasi My Tracks

Akhirnya kita menghabiskan malam tahun baru di Tanjung Layar yang suasana-nya tidak semeriah di Pantai Ciantir yang malam itu mengadakan pesta kembang api, setelah puas di Tanjung Layar akhirnya tepat jam 00:15 kita kembali ke penginapan untuk tidur dan besok agenda kita adalah pulang ke Jakarta. Tapi sebelum tidur, kita pastikan dulu bahwa besok sebelum pulang kita harus photo-photo di pantai bareng motor dulu :D

Besoknya hari Selasa tanggal 01 Januari 2013 tepat jam 10:00, akhirnya saya terbangun. Setelah mandi dan makan pagi, akhirnya kita bertiga menuju ke Pantai Ciantir dulu untuk melakukan photo-photo motor kita dengan suasana pantai baru kemudian ke Tanjung Layar untuk mengambil photo motor dengan background Tanjung Layar :)

Geny di Pantai Ciantir Koordinat -6.988249,106.308999 Motor Ico

Seno dan Ridernya Geny di Tanjung Layar Koordinat -6.994439,106.307576

Motor Ico di Tanjung Layar Seno di Tanjung Layar

Kurang lebih jam 12:00 siang, akhirnya kita meninggalkan penginapan dengan sebelumnya berpamitan ke pak Jayat. Tapi sayang-nya waktu kita balik, terjadi kemacetan menuju ke jembatan gantung Pantai Ciantir dan ini menyebabkan kita untuk menunggu cukup lama hingga akhirnya bisa keluar :(

Terjadi Kemacetan

Sampai pintu keluar, tujuan awal kita adalah menuju ke tempat dimana kita kemarin melihat sebuah pemandangan pantai dari atas bukit yang kemarin belum sempat kita abadikan baru kemudian kita pulang.

Indahnya Indonesia Suasana Jalanan yang Mulus

Lokasi Kita Mengambil Photo

Setelah puas mengambil beberapa photo, akhirnya kita pulang tapi dengan jalur yang lain yaitu dari jembatan gantung Pantai Ciantir kita lurus saja. Tapi sayangnya cuaca pada saat itu sangat tidak mendukung, di tengah perjalanan akhirnya turunlah hujan yang sangat deras yang memaksa kita untuk mampir di sebuah warung bakso yang berada di tengah hutan. Disini kita meneduh dengan beberapa rekan dari bogor, tapi beberapa rekan tersebut memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan menembus derasnya hujan sedangkan kita bertiga masih menunggu supaya hujan sedikit reda karena perjalanan yang akan kita tempuh masih jauh.

Hujan Deras Memaksa Kita Untuk Makan Bakso Dulu Beberapa Rekan Dari Bogor

Warung Tempat Kita Berteduh

Karena hujan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung reda, akhirnya kita memutuskan untuk menembus hujan juga dengan menggunakan jas hujan. Perjalanan dari warung bakso hingga ke Cibinong diwarnai dengan gerimis dan sesekali hujan deras, ditambah dengan kemacetan di jalan raya sukabumi yang menyebabkan perjalanan kita jadi makin lama. Di perjalanan pulang kali ini kita cuma istirahat 3 kali saja yaitu di SPBU 34-43304 Pelabuhan Ratu, di Indomart dan terakhir di SPBU di daerah Parung Kuda dan tidak banyak mengambil photo-photo. Karena kondisi jalanan yang macet, akhirnya saya terpisah dengan @imam_aki dan @ignico. Dan sampai dirumah dengan selamat tepat jam 11:30 malam dan inilah rute jalur pergi dan pulang yang kita lewati menuju ke Desa Sawarna ;)

Rute Perjalanan Pergi dan Pulang

Fyuh… perjalanan yang sungguh mengasyikkan dan cukup seru, dan dari perjalanan kali ini banyak hal yang akhirnya saya bisa pelajari yaitu :

  1. Kalau berjalan di jalanan yang becek dan licin, usahakan jalan di tepian tempat dimana rumput tumbuh karena tidak licin. Jika banyak tumbunan putri malu, pakailah sandal.

  2. Kalau touring dengan sedikit orang, tentukan rest point yang pasti dan semua personel harus mampir disitu. Ini supaya jika kita tercecer ketika jalanan macet, kita masih bisa berkumpul. (Sebenarnya sih sudah dikoordinasikan, cuma karena saya panik ketika kehilangan @imam_aki akhirnya jalan terus sampai Jakarta :D)

Ini ceritaku, mana ceritamu ??

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: