Martinus Ady H. BloG

Human Knowledge Belongs To The World

Dosa-Dosa USD Terhadap Emas

| Comments

Setelah kemarin saya mengutip thread yang membahas tentang Fundamental ReksaDana dan Bagaimana cara memilih Reksa Dana dari KasKus, sekarang yuuk mari kita bergeser ke Investasi EMAS :)

Sebelum mulai membaca, sebaiknya siapkan dulu kopi, rokok dan cemilan disamping anda, karena tulisan ini sangat panjang dan mungkin akan bikin mata anda mengantuk :D Karena postingan merupakan gabungan dari 2 artikel yang dijadikan satu :) Jika sudah siap, artikel dibawah ini akan mencoba menjelaskan kenapa mata uang USD sangat dominan di pasar internasional sekarang ini, dibalik semua-nya itu ternyata ada yang jebakan-jebakan yang ternyata memang sengaja diciptakan. Nah postingan kali ini juga merupakan saduran dari Kaskus yang thread lengkap-nya bisa dibaca di Dosa-dosa USD Terhadap Emas Part1 dan Dosa-dosa USD Terhadap Emas Part2 , di posting ulang disini hanya sebagai arsip pribadi saja :) Jika tertarik, yuuk mari sama-sama kita simak :)

DollarVSEmas “USD rules the world” ini merupakan ungkapan yg tepat untuk mengambarkan hegemoni USD dalam tatanan system keuangan internasional. Seluruh dunia menggunakan mata uang USD untuk kegiatan bisnis internasionalnya (kecuali Eropa tentunya). Sebagian besar negara di dunia menggunakan USD sebagai cadangan devisa untuk mejaga kestabilan mata uang lokal dan untuk juggling agar nilai mata uang lokal bisa dipertahankan dalam nilai tertentu

Singkatnya, cadangan devisa diadakan untuk sebagai alat untuk menjaga keseimbangan supply & demand USD dengan tujuan mempertahankan harga/nilai mata uang lokal. Dengan adanya cadangan USD, BI dapat melakukan intervensi dipasar dan mempertahankan Rupiah pada tingkat tertentu.

Sepuluh negara penyimpan cadangan USD terbear adalah lima diantaranya adalah negara Asia yaitu Japan, China, Taiwan, Korea dan Hongkong (dalam miliar).

  1. Jepang USD 485.3 (Feb 2003)

  2. China USD 286.4 (Dec 2002)

  3. Taiwan USD 166.3 (Feb 2003)

  4. Korea USD 124.0 (Feb 2003)

  5. Hong Kong USD 113.7 (Feb 2003)

  6. Jerman USD 92.2 (Jan 2003)

  7. Singapura USD 84.0 (Jan 2003)

  8. Amerika USD 78.7 (Feb 2003)

  9. India USD 75.4 (Feb 2003)

  10. . Perancis USD 63.5 (Jan 2003)

(Sumber: IMF, internet)

Mengapa negara-negara menyimpan cadangan devisa dalam bentuk USD? Untuk menjawab hal ini, kita perlu menengok kembali ke asal muasal dari kedigdayaan USD yang masih saja tetap bull terhadap sebagaian besar mata uang dunia. System keuangan dunia inilah yg merupakan penyumbang terbesar kejayaan Amerika karena system tersebut secara strategis diciptakan hanya untuk kebaikan Amerika, bukan untuk negara lain. Untuk menjelaskan hal ini kita harus melihat kembali asal muasal lahirnya USD sebagai “mata uang tunggal dunia”.

PERJANJIAN BRETTON WOODS : Disinilah kisah langlang buana USD dimulai, dikota kecil Bretton Woods USA pada tahun 1944. Pasca perang, system keuangan internasional kacau, masing-masing negara berlomba-lomba mencetak uang untuk membiayai pembangunan kembali negarannya tanpa diback up dengan kecukupan cadangan emas. Hiper inflasi terjadi (mata uang Jerman pernah sampai 4 trilliun Marks = 1 USD !!), singkat kata, negara Eropa tengah terperangkap dalam resesi. Amerika dan Inggris melakukan inisiatif dalam berbagai pertemuan internasional, kedua negara pemenang perang ini saling berebut untuk memenangkan kepentingannya dalam perjanjian ini. Akhirnya perjanjian Bretton Woods pun ditanda tangani oleh 44 negara. Dua butir kesepakatan yang sangat penting adalah :

  1. Terbentuknya IMF

  2. USD dan Poundsterling disepakati sebagai cadangan devisa dari negara penandatangan perjanjian.

Keberhasilan yg dibuat oleh para leluhur Amerika inilah, khususnya butir b, merupakan penyumbang terbesar dalam kejayaan Amerika sampai saat ini, dan saat itu jugalah lingkaran “USD currency traps/jebakan” dimulai.

Bagaimana runtutan jebakannya? Bagaimana USD akan hancur dominasinya? Ada apa dibalik serangan ke Irak? Siklus keuangan dan apa yg mesti dilakukan?

PEMBENTUKAN JEBAKAN Sebelum dunia ini mengakui USD sebagai mata uang tunggal, setiap negara yg mencertak uang harus diback-up dengan emas. Sederhananya, jika suatu negara mencetak uang sebanyak 1 trilliun, maka negara tersebut harus memiliki emas senilai 1 triliun juga, dengan demikian kalau setiap saat pemilik uang dapat menukarkannya dengan emas, uang saat itu hanya sebagai media perantara ,nilai sebenarnya yg ditukarkan adalah emas.

Seiring dengan perjanjian Bretton Woods yg telah disepakati, dimana USD diangkat sebagai candangan devisa, permintaan akan USD meningkat terus-menerus untuk mensupply swap/tukar menukar dengan mata uang negara lain. Dalam perjalanan ini, distorsipun terjadi yang semula USD ditujukan untuk mangatasi krisis di Eropa Tengan berubah menjadi sebuah standar. Nilai uang yang semula dinilai berbasis cadangan emas berubah menjadi berbasis USD dan duniapun mulai dibanjiri dengan likuiditas USD. Disini muncul tanda tanya besar, apakah uang yg dicetak oleh USA untuk mensupply dunia itu di back-up dengan emas yang memadai?, kalau semua negara ramai-ramai mengembalikan cadangan USD tersebut ke USA, apakah Amerika tetap dapat menahan nilai USD pada nilai sekarang ?, apakah USD bisa menjadi wall paper suatu saat ketika dunia mulai menyadari ketidak beresan sistem ini?

UANG ADALAH HUTANG Dalam sebuah forum tukar informasi di internet, ada yg tidak mengerti dan menolak penjelasan saya bahwa uang adalah hutang dari pemerintah atau sebuah negara. Seperti yg saya jelaskan diatas uang kertas/koin yg beredar hanya perantara, sebenarnya jumlah uang kertas dan coin yg beredar harus sesuai dengan nilai cadangan emas, singkatnya uang kertas/koin merupakan “surat” hutang legal dari sebuah negara. Selembar uang kertas USD 100 tidak akan bernilai jika pemerintah tidak dapat memberikan emas atau “barang” dengan nilai yg sama saat uang lembaran tersebut dikembalikan. Dalam perjalanannya praktisnya, uang yg dicetak tidak lagi didasarkan pada jumlah cadangan emas yg tersedia tapi didasarkan pada asas kepercayaan. Pernahkah pemengang uang menanyakan berapa ton emas yg dimiliki untuk memback up uang yg dicetak?

JEBAKAN PERTAMA Kalau kita sudah sepakat bahwa uang adalah hutang, maka kedekatan untuk mejawab jebakan USD sudah bisa dimulai. Kita bisa mulai menjawab siapa yang mencetak uang terbanyak didunia? Mata uang apa yang “rules the world “? Jawabanya singkat USD. Kalau begitu USA merupakan negara dengan jumlah hutang tebesar?, ya jelas, USA adalah pengutang terbesar karena satu-satunya negara yg terlegitimasi untuk “monopoli”. USA merupakan negara yang kemekamuran rakyatnya dibiayai oleh negara diseluruh dunia. Ini yang saya sebut sebagai warisan terbaik leluhur ekonom Amerika bagi anak-cucu mereka!

Kok bisa begitu? Bukankah negara lain juga mencetak uang untuk ditukarkan dengan USD?

Kunci dari kesuksesan sistem ini adalah bahwa USA tidak akan pernah perlu mengembalikan hutangnya jika tidak ada perubahan dalam sistem keuangan internasional. Hutang yang tidak perlu dikembalikan tersebut disimpan dalam bentuk devisa dan cadangan suatu negara. Ingat disini kuncinya adalah cadangan, artinya idle money, merupakan stok minimum devisa USD untuk mempertahankan nilai mata uang lokal. Cadangan/reserve berarti uang nganggur yg tidak boleh dibelanjakan. Ilustrasi sederhannya begini, apakah BI berani membelanjakan USD sampai 0, coba tanyakan ke gubernur BI yang baru berapa nilai minimal cadangan devisa yang aman bagi Indonesia untuk menjaga USD pada level sekarang? Gubernur BI akan menjawab kita perlu mempertahankan USD ### milyar untuk menjaga kemanan BI dan memernuhi kebutuhan ekonomi lainnya. Lain halnya kalau gubernur Federal reserve ditanya berapa nilai Rupiah, Yen, SGD dll yg perlu dijadikan candangan minimum? Jawabannya zero. Artinya boleh dibelanjakan, artinya bisa meningkatkan kemakmuran rakyat artinya dapat menutup defisit !

JEBAKAN KEDUA Begitu besarnya hutang yang dimiliki oleh USA kepada dunia dan begitu banyaknya cadangan yg dimiliki oleh negara lain membuat USA secara sistem terlindungi dan terproteksi. Proteksi ini dalam artian “if I am going down, you are going down too” Negara dengan cadangan USD terbesarlah yang terperangkap paling dalam dalam sistem ini, dalam hal ini tentu saja 5 negara Asia. Lima Negara di Asia secara tidak langsung harus “membantu” menjaga nilai USD dimata dunia agar asset mereka yg berupa cadangan tidak menyusut nilainya. Artinya mereka harus melepaskan diri secara pelan-pelan dari USD agar depresiasi USD tidak membuat shock dunia dan memicu kepanikan dan efek domino. Coba saja kalau mereka jual USD secara serempak di pasar dunia, berapa persen lagi nilai USD akan merosot?

Kalau terjadi krisis moneter internasional, maka Asialah yang akan duluan hancur diatas kepingan sistem yang dibangun Amerika.

Disini kan “lucunya”, bahwa untuk mempertahankan mata uang lokal setiap negara harus memiliki USD !!!, disini kepiawaian USA dan jebakan dan lingkaran setan dibangun. Perencanaan keuangan USA memang bisa disebut jempolan, hal ini sudah mereka pikirkan sejak 50 tahun lebih.

JEBAKAN KETIGA Apa itu jebakan ke 3? Bagaimana USD akan hancur dominasinya? Ada apa dibalik serangan ke Irak? Siklus keuangan dan apa yg mesti dilakukan?

Jebakan ketiga adalah bahwa sebuah negara tidak independen dalam menentukan nilai mata uang lokalnya sendiri. Nilai mata uang yang berbasis free float secara tidak sadar sangat menggantungkan nilai mata uangnya pada “kebaikan hati” dari negara paman Sam untuk mengatur nilainya. Dalam studi ilmiah ini dinamakan “the power of supply and demand”. Artinya negara paman Sam, dalam sistem free float, dapat membuat sebuah negara menjadi kaya atau miskin sesuai dengan kemauan untuk men-supply atau men-demand mata uang USD, tentu saja ini sesuai dengan target dan objektif yang hendak dicapai.

Sebuah rezim pemerintahan yg menganut sistem keuangan free float dan ingin tetap “survive” harus sungkem kepada USA agar negara tersebut berbaik hati untuk tidak merecoki nilai tukar uang lokal terhadap USD. Dalam sistem free float jelas negara “lemah” tidak akan pernah dapat mengendalikan nilai mata uang lokal terhadap USD karena terbatasnya sumber daya, termasuk Indonesia. Adalah mimpi yang terlalu manis jika Indonesia berharap untuk hidup sebagai negara mandiri tanpa mempertimbangkan dan memperbaiki sistem pertahanan keuangan yang ada, sebab hal ini merupakan hal yang sangat fundamental dalam sistem ketahanan finansial nasional.

Apalagi kalau Indonesia ditekan untuk memberikan data-data dan informasi secara transparan dengan berbagai macam dalih, jelas itu punya maksud dan tujuan tertentu, yang pada akhirnya menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk gempuran-gempuran financial barat (USA). Mudah-mudahan data keuangan negara Indonesia tidak dibuka semuanya kepada kalangan internasional terutama IMF (USA) demi menjaga ketahanan sistem keuangan itu sendiri.

BAGAIMANA DOMINASI USD AKAN HANCUR Bicara tentang kehancuran ini mungkin banyak pihak yang sinis bahkan mungkin tidak akan tertarik untuk mencermatinya karena “no one like bad news atau bad prediction”. Berikut ini beberapa kalimat dari pemimpin dunia yang saya ingat dan saya tuliskan secara bebas.

Bill Clinton (sebelum penyerangan Irak) : Sebaiknya USA jangan memperbanyak musuh karena mungkin 50 tahun kedepan USA tidak akan memimpin ekonomi dunia lagi.

Mahatir Muhammad (dalam konferensi di China 2003) : “USD bukanlah mata uang yang fundamentalnya kuat, USD adalah mata uang yang vulnerable (ngak stabil)”

Tentu saja kalimat-kalimat yang diucapkan bukan asal-asalan, ada sesuatu yang ingin dikatakan dalam kalimat tersebut walaupun tidak terlihat, tapi bahwa kalimat tersebut didasarkan pada berbagai asumsi dan analisa itu sudah pasti.

DATANGNYA EURO SEBAGAI PENANTANG BARU Perjanjian Bretton Woods yg semula ditujukan untuk membangun Eropa Tengah kini sudah tidak valid lagi karena Eropa sudah berkembang jauh daripada yang terjadi dalam masa perjanjian Bretton Woods. Kebangkitan Eropa yang real adalah dengan keberhasilan Eropa untuk bersatu dalam satu wadah ekonomi yang berbasis mata uang tunggal, Euro. Konsekuensi logis dari penggunaan mata uang tunggal ini adalah bahwa mereka tidak membutuhkan USD lagi sebagai alat transaksi ataupun reserve. Sehingga USD yang dulu mereka reserve hanya dibutuhkan dalam jumlah sangat terbatas. Konsekuensi disini sangat jelas bahwa USD yang semua menjadi cadangan di Eropa akan mengalir kembali ke USD. Disini jelas bahwa jebakan pertama mulai runtuh bagi negara Eropa. Negara Eropa tidak lagi memberikan hutang kepada USD.

Akibat turunannya sangat jelas, permintaan Euro menguat, nilainya naik. Sebaliknya dengan supply USD yg dilepas dari cadangan Eropa mengakibatkan USD turun. Dalam jangka panjang negara Eropa akan memainkan peranan penting dalam menantang dominasi USD di dunia. Masing-masing pihak, Eropa dan USA akan sangat sadar bahwa perlemahan USD yang drastis terhadap Euro dapat mengakibatkan efek domino yang bukan saja bisa merontokan ekonomi USA tapi juga dunia khususnya yg memiliki asset USD dalam jumlah besar. Oleh karena adanya kesamaan persepsi atas “gentingnya” situasi jika sampai terjadi efek domino, maka melemah mata uang USD akan “dimanage” bersama. Dalam hal ini perlemahan USD terhadap Euro tidak boleh drastis, tapi harus secara perlahan bahkan secara tidak kelihatan. USA sadar bahwa kalau mereka tidak bekerjasama dengan Eropa, maka bisa “kerepotan”. Yang dulu merupakan jebakan bagi negara lain kini menjadi bumerang bagi USA sendiri. USA harus menerima bahwa ia tidak bisa lagi memonopoli hutang dunia, kini Euro akan bersaing sebagai penghutang dunia juga dengan menjadikan mata uang mereka sebagai 2nd world’s currency disamping USD.

Untuk menjaga agar efek dominonya terkendali, USA harus dan pasti akan berkerjasama dengan Eropa, ngak ada pilihan lain. Dalam hal mereka tidak bekerjasama, maka sangat mungkin kejatuhan USD justru menjadi sangat cepat dan drastis, akibatnya bisa sangat menghancurkan. Kalau sampai negara Asia lainya rush dengan melepas USD dan mengkonversikannya kedalam Euro, jelas USD akan “remuk” nilainya. Sebaliknya Euro akan semakin kuat, kalau sampai hal ini terjadi dunia akan masuk dalam masa “resesi” lagi. Disisi lain juga jika USD sampai hancur, maka ini merupakan suatu preseden untuk tidak mempercayai Euro juga, jadi kalau tidak ada kerjasama antara USA & Eropa, maka hasilnya akan lose-lose (sama-sama rugi). Kerjasama ini jelas arahnya, yaitu USD harus melemah terhadap Euro dalam jangka panjang.

Self Destruction Sumber : Asia, its reserves and the coming dollar crisis. Richard Duncan

Dari grafik diatas kelihatan jelas bahwa terjadi pola reserve berubah dari emas menjadi USD. Tren ini mulai terjadi antara tahun 1969 –1970. Artinya mata uang USD mulai menggantikan emas sebagai cadangan suatu negara (seperti yg saya tulis pada artikel sebelumnya). Pertanyaannya, apakah nilai USD nilainya sama dengan emas? Uang tinggal dicetak, apakah nilai uang yang dicetak oleh negara produsen film Matrix ini sama dengan emas yg mereka simpan?

Self destruction ini terjadi jika USA terlalu serakah dengan mengeksploitasi sistem keuangan yang sangat menguntungkan mereka tanpa terkendali sehingga volatilitas dari nilai dan kepercayaan internasional luntur, saat itulah, secara perlahan USD akan collapse. Karena belitan dan cengkeraman USD yang mendunia, efek strategisnya kalau USD collapse maka sistem financial seluruh dunia akan collapse, bank-bank multinasional akan jatuh miskin secara tiba-tiba, rakyat Amerika tidak akan dapat berfoya-foya lagi dalam berbelanja, Greenback jadi “wall paper” Siapa di dunia yang menghendaki USD collapse kalau bisa menikmati keuntungan dari sistem yang ada? Ngak ada!. Analoginya : Siapa yang berkehendak bisnis money game runtuh jika bisa take profit? Siapa yang mau mengabarkan ketidak –beresan jika mereka sendiri akan rugi? Daripada mengcollapse-kan USD, para pemimpin Eropa mungkin melihat bahwa kenapa ngak masuk dalam bisnis “money game” model USD dengan memunculkan Euro?

Bagi negara lain yang tidak senang dengan “tingkah laku” USA, proses switching dari USD ke Euro akan dilakukan. Mungkin tujuan dari switching tersebut tidak bermaksud membuat collapse USD tapi efeknya yang akan menakutkan.

Ancaman dari Euro sudah masuk sampai depan pintu sistem keuangan dunia, langkah strategis apa yang mesti diantispasi oleh USA agar “pangsa pasar” USD tidak direbut dengan mudah oleh Euro?, bagaimana Euro ditekan agar tidak berkembang ke belahan dunia lain?. Bagaimana caranya membuat “sangkar” agar Euro tetap hanya di daratan Eropa saja?

Hantam saja negara-negara penghasil sumber daya strategis yang mendukung Euro (dengan berbagai alasan dan cara). Baik dengan jalan diplomatis maupun dengan cara militer, langkah militer pertama adalah yang terjadi di Irak, negara penghasil minyak terbesar nomor 2 di dunia tak kuasa menahan kekuatan militer USA. Dua keuntungan yang jelas didapat dari kejadian ini adalah penguasaan ladang minyak dan berhentinya dukungan Irak terhadap Euro.

Perang yang dilancarkan USA ke Irak disertai dengan kontroversi besar di PBB. Hal yang paling kelihatan adalah sepertinya ada persaingan yang sangat kentara antara Eropa (Perancis, Rusia dkk) USA dkk. Saya kira masalah perseteruan bukan pada senjata pemusnah massal, tapi pada dukungan sistem financial yang hendak dilakukan oleh Irak kepada mata uang Euro yang efeknya bisa sangat mengerikan kalau tidak dihentikan. Dunia kini sudah tidak bisa dimonopoli lagi oleh USA, polarisasi mulai kelihatan kentara.

Note: Artikel ini murni diambil dari thread Kaskus, diposting ulang disini hanya sebagai dokumentasi pribadi saja :)

Referensi-referensi terkait :

  1. Emas Sebagai Penangkal Inflasi

  2. Cara Mudah Memiliki Tabungan Emas

Beri Komentar Lewat Facebook:

Beri Komentar Lewat Disqus: